Gangguan Komunikasi di Tengah Pandemi Virus Corona

Udah siap dengan new normal???

Yaaapss.. Saat ini kita sudah mulai diperkenalkan lalu bakalan akrab dengan istilah New Normal. Pemerintah telah mengizinkan warga untuk melakukan aktifitas kembali, namun tetap mengikuti protokol kesehatan COVID-19. Tatanan kehidupan baru ini, agar masyarakat tetap produktif, dan bisa hidup berdampingan dengan virus Corona.

Kekhawatiran pun datang dari sebagian masyarakat. Tapiiii, ada juga yang malah beranggapan bahwa si virus sudah pergi, tak ada lagi. Sooo bebas kesana kemari.

Kita bicara data yaa..

Berdasarkan data, pertumbuhan kasus virus corona saat ini masih terus meningkat. 
Per tanggal 15 Juni 2020, jumlah kasus positif 39.294, sembuh 15.123, meninggal 2.198. Hari ini, angka kasus positif virus corona Covid-19 di Indonesia bertambah 1.017. Angka kesembuhan juga meningkat.

Mengutip dari kumparan.com, para ahli Epidemiologi yakin bahwa kurva pertumbuhan kasus Covid-19 di Indonesia saat ini belum mencapai puncak. Mereka berpendapat, New Normal masih belum aman.

Hmm.. Dari beberapa berita yang muncul di media massa pada saat sebelum digaungkannya New Normal, masyarakat masih banyak yang tidak disiplin mengenai PSBB, dan social distancing. Betul???

Saya melihat sendiri kondisi di lapangan, ketika masyarakat tidak mengindahkan aturan Pemerintah terkait social distancing guna memutus rantai penyebaran virus corona.

Masih banyak yang berkerumun dan tidak menggunakan masker. Pihak Kepolisian pun harus bekerja ekstra. Meningkatkan patroli rutin, sebagai bentuk tindakan preventif demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.  Membubarkan dan mengimbau warga secara persuasif, agar mematuhi anjuran Pemerintah untuk diam di rumah jika tidak ada kepentingan mendesak.

Berkaca dari kejadian tersebut, apakah dengan hadirnya New Normal, masyarakat yang masih menyepelekan virus Corona, justru akan menjadi semakin bebas?

Komunikasi sangat penting untuk memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat. Karena pesan yang disampaikan punya nilai untuk sebuah permintaan, tindakan. Jangan sampai  ada kesimpangsiuran informasi yang disampaikan, sehingga membuat blunder. 

Tugas Pelaku komunikasi lah, yang harus punya strategi dalam menyampaikan pesan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. 

John Stewart mengatakan, bahwa bahasa merupakan "hubungan artikulasi yang mendasari". Proses penggunaan bahasa dengan orang lain mendasari kategori- kategori dan logika-logika yang digunakan untuk memahami dunia.

Begitu pula dengan ungkapan Saussure, komunikasi ini mekanisme dimana bahasa dan tanda-tanda diciptakan, dipertahankan, dan diubah.

Pengaruh sebuah pesan ditentukan oleh tanda-tanda, simbol, kata-kata, dan tindakan yang ada dalam pesan itu sendiri. Karena kekuatan komunikasi tercermin dalam pesan yang dibangun lebih dari sekedar menyampaikan informasi. 

Komunikasi massa ikut ambil bagian. Pesan yang disampaikan melalui media massa, dapat menciptakan, dan menyebarkan pesan-pesan pada masyarakat luas. 

Media sebagai perpanjangan pikiran manusia, punya kemampuan menyusun isu-isu bagi masyarakat. Sementara, dari perspektif budaya, media massa menjadi acuan utama untuk menentukan definisi-definisi terhadap suatu perkara. dan memberikan gambaran atas realitas sosial.



Tapi masalahnya, Audiens yang berbeda, akan memahami apa yang mereka lihat atau baca dalam cara yang berbeda. 


Audiens atau khalayak, terdiri dari berbagai budaya. Sehingga hasil konsumsi media bergantung pada susunan budaya dari komunitas tersebut. Ada sebuah tulisan yang isinya : 

"I know you believe you understand what you think I said but, Iam not sure you realize that what you heard is not what I meant."

Gitu gaiis.. Kita menerjemahkan pesan dengan cara yang tidak sama.

Naah yang jadi PR nya adalah bagaimana agar pesan tersebut  dipahami oleh audiens ???


Seperti teori Komunikasi klasik model Lasswell, Siapa Mengatakan apa, Di saluran mana, Untuk siapa, Dengan pengaruh apa. 

Siapa sumber yang mengirimkan pesan, melalui media kepada penerima, maka akan muncul efek. 

Komunikator atau sumber nya ini berarti harus kompeten. Karena  masyarakat di Indonesia sebagai penerima informasi itu beragam bookk. Dengan latar belakang, psikologis dan sosiokultural yang berbeda-beda.

Jika masyarakat sebagai khalayak bertindak tidak sesuai tujuan yang diinginkan si pemberi pesan, berarti ada yang salah dalam Komunikasi. Waduuh..

Dalam Ilmu Komunikasi ada istilahnya noise. Noise inilah yang menentukan berhasil tidaknya sebuah komunikasi. Bisa berupa Gangguan fisik, teknis, semantik, dan psikologis (West dan Turner, 2008:12).

Gangguan teknis bisa terjadi ketika informasi yang disalurkan terhambat. Misalnya nih karena ada masyarakat yang belum punya televisi, smart phone. Atau bisa juga karena lokasi yang jauh, gak ada jaringan internet. Akhirnya gak sampai deh pesan itu. Sehingga sebagian dari mereka tidak mengikuti perkembangan kasus Covid-19.


Gangguan Semantik adalah kendala dalam bahasa saat mengirim dan menerima informasi. Contohnya yaaa, di tengah pandemi ini, banyak istilah asing yang tak dipahami oleh masyarakat awam. 

You know lahh,.. Seperti  Social Distancing, Lockdown, PDP, ODP. Gak semua warga ngerti istilah-istilah itu.

Supaya tidak ada kesalahpahaman dalam penerimaan pesan, Pemerintah harus melakukan pendekatan, meminta bantuan dan bekerjasama dengan  pihak tertentu dalam menyampaikan kembali informasi tersebut. 

Karena, gimana pun juga pengaruh sumber atau komunikator menjadi penting. Siapa yang berbicara memberikan informasi. 

Khalayak akan mendengarkan dan percaya sumber sesuai dengan kredibilitasnya,  kedekatan, daya tarik, kekuasaan, wewenang. Semua itu jadi faktor bagaimana pengaruh pesan akan diterima.

Misalnya, pada kepada adat yang lebih didengar dan dipercaya oleh warganya. Pemuka agama, agar menyampaikan sesuai dengan dalil yang berkaitan. Inilah yang harus diatasi supaya pengiriman pesan sesuai yang diharapkan.

Seperti yang tertulis dalam buku Teori Komunikasi, dalam menerima informasi, manusia melakukan dua hal. Seleksi dan interpretasi. 

Seleksi ini meliputi perhatian-perhatian yang selektif terhadap sumber informasi. Penerima pesan dengan sendirinya akan memilih sumber infomasi. Apakah menarik perhatiannya atau hanya sekedar lewat.

Sedangkan Interpretasi tersusun dari pengubahan pesan menjadi bentuk yang memiliki nilai dan kegunaan untuk individu.

Oleh karena itu pemberi infomasi harus dapat menyampaikan pesan dengan baik, agar informasi dapat diterima.


Okeeeh, itulah secuil edisi Opini Ceuceumeo. Mon Maaaf, masih belajar beropini. Semoga berkenan :)



Sumber :
Komunikasi Dan Perilaku Manusia - Brent D. Ruben - Lea P. Stewart
Teori Komunikasi - Little John



---------------------- Ceuceumeo ----------------


Comments

  1. Agree, new normal. But not really safe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tetep stay safe, stay healthy ya Paak Jenoong..

      Delete
  2. Iya Nhae, sepertinya kita juga memahami new normal secara berbeda. Banyak yang memaknai new normal adalah kembali beraktivitas seperti semula, cuma bedanya pake masker dan rajin cuci tangan. Padahal sebenarnya makna new normal lebih dalam dari itu, new normal bisa berarti perubahan secara sistemik bagaimana kita beraktivitas setiap hari. Tak hanya sekedar pake masker dan cuci tangan, tapi juga mode bekerja kita yang sudah tak harus tiap hari ke kantor karena banyak pekerjaan yang sudah bisa dilakukan dari rumah. Pun otomatisasi di pabrik pabrik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naaah itu dia. Ngeri-ngeri gimana gitu ya. Antara takut tapi juga kebutuhan.. Yah semoga deh, yang sakit segera pulih. semua sehat kembali normal.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Amigdala - Ku Kira Kau Rumah

Kisah Perjuangan Umi Tri Handayani Melawan Kanker

Cerita Rambut Merah Bilalang