0

Camilan Jengkol Khas Orang Banjar Kalimantan Selatan

Posted by Nhae Gerhana on 8:32 AM in ,

Siapa disini yang doyan jengkol???
Udah ngaku aja.. Gak perlu senyum-senyum malu-malu mau gituuu..hehehe.. =P

Aneka Jengkol

Cewe makan jengkol, udah bukan hal yang aneh dan bikin tengsin kok. Apalagi sekarang popularitas jengkol sudah makin hits di beberapa kota besar. Bahkan udah ada resto yang khusus menyediakan jengkol sebagai menu utamanya. Jengkol dibuat dengan aneka olahan sebagai teman makan siang bersama nasi.

Tapi, apa kabar kalo jengkol jadi camilan?? Jengkol dimakan tanpa nasi, dan jadi bekal camilan di kampus atau di kantor.
Hmmmmm..  Seriuuss ada??

Jawabannya ada doong..
What?? Gak kebayang ngemilnya jengkol.
Sedikit rasa tak percaya ketika Bang Jani, seorang teman yang tinggal di Banjarmasin bercerita tentang kedai jengkol fenomenal yang ada di Kota Banjarmasin.

Tepat bulan Oktober tahun lalu, kebetulan saya ada tugas di Kota Banjrmasin Kalimantan Selatan. Kali kedua saya menginjakan kaki di Kota seribu sungai ini. Kota yang punya banyak kuliner tradisional yang selalu membuat penasaran. Tak terkecuali jengkol khas Banjar.

Karena rasa penasaran, pagi itu saya bersama dua orang teman pergi menuju kedai Ibu Hj. Fatimah, yang ada di Jalan Dahlia 2 No. 48 Kecamatan Banjarmasin Barat.

Udara pagi yang masih segar, ditemani raja siang yang perlahan muncul dari kejauhan. Mobil Avanza hitam, bergerak meninggalkan hotel tempat kami menginap.

Sesampainya di tujuan, saya pun berkenalan dengan seorang Ibu dan putrinya yang sangat baik dan ramah. Yah beliaulah Ibu Hj. Fatimah. Ibu Fatimah mulai menceritakan dengan antusias bagaimana kedai ini bisa berdiri dan eksis sampai saat ini. 

Kedai jengkol yang sudah ada sejak tahun 1979 ini, awalnya dikelola oleh Ibunya. Dan saat ini, usaha tersebut diteruskan oleh generasi pertama, yaitu Ibu Hj. Fatimah sendiri. 



Setiap hari, jengkol  buatannya kerap kali laris manis dihajar pembeli. Pembeli tak hanya dari dalam kota saja loooh. Dari luar kota pun, setiap hari jumlahnya meluber. Warung yang sederhana ini, buka dari Pkl. 06.00 – sore hari.Bahkan siang hari pun, jengkol sudah habis tak bersisa.

Pembeli rela antri dari pagi, demi mendapatkan jengki favoritnya.
Ssstttttttt.. kebanyakan, yang mengantri adalah perempuan looh. Rata-rata mereka membeli sebelum berangkat ke kantor. Ada juga yang sengaja membeli borongan, kemudian mereka jual di luar Kota.

Pembeli borongan

Teeenaaang, jengkol yang dibuat Ibu Fatimah gak menyebabkan bau mulut kook. Itulah yang menjadi nilai plus jengkol khas Banjar yang satu ini.

Karena ada rahasia selama proses pembuatannya. Yaaps..Memerlukan waktu cukup lama sampai rasanya empuk, dan baunya hilang. Bahkan...Total prosesnya memakan waktu selama 20 jam. Waah cukup lama kaan??.

Ehmm.. saya kasih bocoran rahasianya yaaa.. Jadi begini..

Jengkol direndam sebelum dioalah selama 1 hari 1 malam. Setelah itu, direbus dengan air mendidih selama 3 jam. Proses perebusannya gak main-main. Karena dilakukan 2 kali. Itulah yang membuat teksturnya lembut.




Setelah direbus, jengkol dipipihkan dengan kayu supaya rasanya lebih lembuuut.  Jengkol  yang dipilih tentu yang bentuknya bagus. Jengkol yang tidak lulus seleksi, dimasak menjadi semur jengkol,  balado,  dan rendang. 



 
Memipihkan jengkol
Jengkol tidak sendirian. Karena ada pendamping dan pelengkapnya. Masyarakat Banjarmasin menyebutnya Lalaan.  Saos khas Banjar, yang terbuat dari santan.

Begini cara membuat santannya.
Santan dimasak sampai terpisah antara air dan lemaknya. Harus terus diaduk selama proses mengolahnya.  Supaya tidak gosong dan lebih cepat matang. Tunggu sampai minyaknya keluar. 

Memasak santan


Tampilannya seperti ini..


Jengkol khas Banjar
Lalaan dikenal juga dengan nama tahilala. Cocolan saat makan jengkol, yang rasanya gurih. Oiiiaaa... La’laan juga biasanya jadi teman kue petah. Kue khas Banjar, yang terbuat dari tepung beras dan kapur sirih. 

kue dan lalaan

Cita rasanya yang sedap, dan tanpa berbau inilah yang menjadi daya tarik konsumen. Dalam sehari, bisa menghabiskan 300 kg jengkol. Artinya, sebanyak 500 bungkus jengkol habis setiap hari. Wow.. 

Awalnya saya sedikit ragu saat mau mencobanya. Ternyata rasanya memang enaaaakk. Pantas orang Banjar menyukainya. Karena saya berasa seperti bukan makan jengkol yang biasanya. Jengkol dicocol dengan lalaan, wajib kalian coba jika berkunjung ke Kota ini.
Harganya hanya Rp. 10.000,- 

Tumbuhan yang punya nama latin archidendron pauciflorum ini, memang berasal dari Asia Tenggara ya. Dia termasuk suku polong-polongan. Jadi sebenernya jengkol yang kita makan itu adalah biji dari tumbuhan tersebut.

Masyarakat banjar mengenal jengkol dengan sebutan jaring. Jangan takut makan jaringya, karena ada sisi manfaat dari kudapan yang satu ini. Selain bisa mencegah diabetes, baik juga untuk kesehatan jantung.

Kandungan protein yang tinggi pada jengkol, membantu pembentukan jaringan dalam tubuh  Dia juga kaya zat besi. Sooo bisa mencegah dan mengatasi kurangnya sel darah merah dalam tubuh kita.

Eiiiitttsss... Tapi jangan berlebihan mengkonsumsinya yaaaa. Karena ada kandungan asam jengkol. Semacam asam amino  yang bisa menyebabkan djengkolism. Penumpukan kristal di saluran urin yang dikenal degan jengkolan. Selagi masih ada manfaatnya, nkmati aja.. asal secukupnyaaa yaaa.

Ibu Fatimah

Pembeli untuk dijual ke luar kota

bungkusan jengkol



 ------------------ Ceuceumeo ----------------
@nhaegerhana



 

2

Tentang Jakarta Dan Keterasingan

Posted by Nhae Gerhana on 6:54 AM in
Lampu-lampu jalan berpendaran, ketika malam mulai menempati tugasnya. Dari sudut jalanan Ibukota terlihat deretan bangunan kokoh menjulang tinggi menunjukan kekuasaannya. Mataku mulai menyapu satu persatu kendaraan yang berlalu lalang tak ada habisnya. Suara bising dan orang asing melintas tiada batas.

"Aaah Jakarta, sudah genap 5 tahun aku menitipkan sebagian kehidupanku disini." hatiku berbisik pelan. 

Tanggal 1April 2012, menjadi tanggal bersejarah dalam kehidupan baruku. Dimana keputusan besar, dengan mantap untuk hijrah meninggalkan kota kelahiranku..Yaaahh..Bandung.

Ingatanku menerawang, mengingat keraguan yang pernah bersemayam kala itu. Apakah aku harus mengambil pekerjaan ini, dengan resiko kontrak selama 5 tahun??
Apakah aku sanggup melewati 5 tahun dalam sebuah ikatan kerja di Ibu Kota??
Apa mungkin, rentetan tanggung jawabku di Kota asal, bisa aku selesaikan dengan berpindah??

Ternyata semua keraguan, kekhawatiran, keresahan, dan kecemasan hanyut ketika kita berpasrah dan yakin kepada Allah SWT.

Terngiang suara Bunda yang menyadarkan sekaligus memompa semangatku..
 "Keraguan adalah awal dari kegagalan.. Jangan takut, karena ada Allah..Bukankah ini impianmu dari dulu?? Allah sudah kasih, jangan sia-siakan. Ambilah kesempatan ini." Dengan nada lembut namun ada ketegasan sambil menatapku penuh keyakinan.

Bunda memang benar. Jakarta menjadi kota impianku. Pada kota yang memiliki gedung pencakar langit terbanyak ini, aku menaruh harapan masa depan, sejak dulu. Tak peduli betapa panas, dan padatnya jumlah penduduk yang menempati Kota ini. Jakarta tetap memikat ketika kutatap kembali dengan lekat. 

Sampai akhirnya,waktu punya cara yang unik untuk menjawab semua keraguan, kecemasan yang singgah kala itu. 5 tahun sudah berlalu, banyak cerita dan kenangan bertalu.

Tapi sayangnya.. 5 tahun bersama, aku masih belum mengenalmu dengan akrab.
Mungkin karena kondisi pekerjaan yang membuatku selalu meninggalkan hiruk pikuk disini. Terbang berkunjung pada anak-anak kota lainnya. Membuatku terhindar dari gemerlap Ibukota. Hari-hariku banyak berjalan di luar pulau dengan segala keindahannya.

Kemudian aku teringat pada sebuah karya tulisan Seno Gumira, dalam bukunya affair - Obrolan Tentang Jakarta. Dalam bukunya, kita akan terbawa dengan suasana Jakarta yang dipuji sekaligus dicaci. Keresahan kaum intelektual di tengah absurditas Jakarta melalui eksistensi manusia. Kegermelapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal karena kegermelapan Jakarta tidak mencerminkan kegermelapan jiwa warga kota.

Apa iya, dalam potret kisah Jakarta, di dalamnya terdapat jiwa yang kosong?? Disaat Para pengembara terus berusaha dalam pencarian masa depan.

Jakarta memberikan warna baru dalam ceritaku. Karena bagaimanapun, aku adalah bagian dari Kota ini.. Meskipun masih terasing, dalam perjalanan coretan ceritaku tak pernah kuambil pusing. 

Seperti pesan Bunda, "Dimanapun berada, ada Allah yang teramat dekat" 
Jadi apa yang dikhawatirkan selama kita punya keyakinan. 

Selamat 5 tahun di Ibu Kota, dengan sejuta cerita. :)











------- Ceuceumeo ------

Jakarta, 11092017

@nhaegerhana





Tulisan untuk #1minggu1cerita


0

Raisa.. Lebih Dari Sekedar Patah Hati Nasional

Posted by Nhae Gerhana on 2:42 AM in
Siang itu, jalanan Kota Bandung begitu macet.. Terutama di jalan Pasteur menuju Gerbang Tol. Aah tentu saja.. saat itu adalah long weekend. Hari setelah perayaan Idul Adha kemarin. 

Soo.. yang namanya macet udah gak diragukan lagi deh..  
Tepatnya hari Minggu, tanggal 3 September 2017, saya harus kembali ke Ibu kota untuk mencari sesuap nasi dan mengais rezeki.. *Tsaaaahhh

Eittss tunggu dulu.. itu bukan hanya sekedar tanggal biasa.. Karena bertepatan dengan bulan Dzulhijjah. Salah satu bulan haram, yang penuh kemuliaan. Dimana umat islam di seluruh penjuru dunia melaksanakan rukun islam yang ke lima. Yaitu Naik Haji.

Saya pun teringat kajian dari Ustadz Khalid Basalamah. Beliau juga menyampaikan, bahwa 10 hari pertama di bulan ini, tak kalah luar biasa dengan 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan. Banyak pahala yang Allah berikan, Rugi jika kita menyia-nyiakannya.Untuk itu, sebaiknya kita melakukan jual beli karena Allah pada salah satu bulan spesial ini. 

Saking baik dan mulia nya bulan tersebut, tak heran banyak moment bahagia tercurah, dan terekam pada bulan Dzulhijjah. Salah satunya adalah pernikahan.. Ehhhmmm mulai baper..hehe....=D

Sambil menembus padatnya antrian kendaraan beroda 4, Instagram menjadi solusi melihat berita terkini. Lalu munculah berbagai gambar dengan hashtag #HariPatahHatiNasionalJilid2. 

Yaaah gambar tidak lain dan tidak bukan adalah pernikahan sodara saya Raisa dan Hamish =P

Bahkaan, sampai detik ini, foto-foto mereka masih membanjiri di explore IG.




Pasangan yang sukses bikin baper para Netizen udah syaaahh pemirsaaah.. Sayapun tak mau ketinggalan berita. Hampir semua foto, video lengkap saya tonton sampai khatam.. Mungkin kalian juga melakukan hal yang sama seperti saya bukan? hahaha =P

Cerita perjalanan mereka masih mencuri perhatian. Bahkan hampir 6 hari berlalu berita terkini soal pasangan paling fenomenal tahun ini pun tetap jadi sorotan. Dan yang gak kalah drama, sekarang lahirlah hashtag baru yang membuat ngakak sambil kezel bacanya. 

Hmmmm.. hashtag #HamishRaisaSatuAtap. Postingan lucu netizen di twitter yang menggambarkan kehidupan mereka setelah berumah tangga sukses membuat perut berasa dikocok setelah membacanya.


Okeeii..kita kembali ke 6 hari yang lalu.. Dimana sepasang kekasih telah Sah dimata Allah SWT. Ketika ijab Kabul terlontar dalam satu tarikan nafas dari seorang pria bernama Hamish Daud Wylie.

Ada aura cinta, ketulusan, kasih sayang yang terpancar. Dari mulai proses lamaran, siraman, pengajian, sampai pernikahan. Tanpa drama yang dibuat-buat, sangat terkesan natural dan elegant ala Raisa.

Saya bukan fans dari mereka berdua. Saya juga bukan followers instagram mereka. Tapi niat kekepoan untuk stalking tak ada habisnya..hehe.. Seperti terbius oleh kesempurnaan cinta yang mereka pancarkan. 

Tentu saja saya mengagumi sosok Raisa. Kecantikan alami yang terpancar dari wajahnya. Kesederhanaannya ketika tampil di atas panggung. Suara emas, dan kepiawaiannya memainkan alat musik menjadi nilai tambah kecantikan paripurna yang dimiliki wanita kelahiran 6 Juni 1990 ini.

Sepak terjangnya di dunia entertaint menghasilkan prestasi bukan sensasi. Ditambah dengan memiliki keluarga yang begitu harmonis, menambah point plus pelantun lagu Mantan terindah ini.  

Daaan sekarang, kenyataan membuktikan gadis berdarah sunda ini telah memiliki parter dunia akhiratnya.

Yaaahhh..Hamish Daud Wylie.. Sosok pria pecinta alam, humoris, romantis, ganteng pastinya =P, dengan segudang prestasi yang pernah ia toreh.

Mereka telah menyihir siapa saja yang melihat moment bahagia itu. Sorot mata cinta yang tulus dari keduanya. Apalagi tatapan Hamish yang tertangkap kamera ketika menatap wajah istrinya.. Aaahhhh ini  sih masih setetes yang bikin Baper pemirsah..wkwkw..

Saking sukanya liat semua moment kisah kasih mereka di medsos, sampe kebawa mimpi jadi temen akrab Bang Hamish en Yaya.. Duh.. terpoteq hati aku Bwaaang.. 😂😂

Semoga kalian sakinah mawahdah warohmah.. Dapet anak soleh-solehah yaah.. Aamiin.. 🙏💑

Saya gak perlu ceritakan gambar, video pernikahan mereka lagi. Kerena mungkin kalian juga udah sama-sama melihat dan merasakan hal yang sama. Bahkan kalian lebih dalam risetnya..iyaa kaan? hahaa.. Eeeaaa baper nasional niyeeee..

Apalagi membahas soal nilai mas kawin yang ratusan juta itu. Dan juga gaun-gaun rancangan designer kelas dunia yang harganya puluhan juta. Karena itu adalah hak dan wilayah mereka. Siapa saja, jika mampu dan sesuai dengan keadaan dan kemampuannya tak masalah bukan????

Banyak orang menilai mereka pasangan meant to be dan pasangan sempurna. Hal itulah yang berdampak patah hati atau entah semacam iri para netizen..jones..dan warganet lainnya...Jleeb..


Tapi bagi saya, patah hati yang sesungguhnya adalah ..
Ini saudaraa-saudaraaaa..




Ketika sesosok Ayah, melepaskan putri kesayangannya untuk menjalankan kehidupan barunya dengan pria tambatan hati. 
Ketika kalimat haru yang menyentuh diucapkan oleh seorang Ayah..
Ketika Raut wajah kehilangan terpancar dari senyum manisseorang Ayah

Kalimat sejuk saat prosesi siraman dari Bapak Allan N. Rachman inilah, yang membawa perasaan....

"Nggak banyak yang tahu di sini bahwa saya memanggil anak saya ini. Saya memanggil anak saya Permata Hati Ayah. Ayah dan Ibu berpesan, iringi langkahmu dengan cinta. 
Nanti dampingi suamimu dengan cinta juga. Belailah anak-anak Yaya dan cucu-cucu Yaya cinta kelak dengan cinta. Dengan cinta itu Yaya nanti akan sadar, bahwa Yaya menghadirkan Yang Maha Penyayang yaitu Allah SWT ke dalam seluruh kehidupan Yaya." ucapan Ayah Raisa dengan nada haru yang saya lihat dari video unggahan Bridestory.



Itulah kata Baper yang sebenarnya bagi saya. 
Bukan hanya karena Raisa
Bukan karena siapa pasangannya. 
Bukan karena kemewahan pestanya
Bukan Karena sempurna hidupnya

Tapi karena kehadiran sosok Ayah yang sangaaaat penyayang, bijaksana dengaan kata-kata amanah pada putrinya.

Sementara, saya disini merindukan sosok tersebut. 
Sosok yang sudah tenang di surga. 
Sosok yang selalu saya rapalkan dalam doa setiap waktu..

Membayangkan nanti, tak ada kehadiran Pahlawan dalam hari besar bersejarah dalam serial kehidupan saya. 

Patah hati yang sesunggunya adalah..
Ketika melihat seorang Ayah, bersalaman dengan calon mempelai pria. 
Menitipkan putrinya pada seorang calon imam dunia akhirat, dengan tujuan untuk mencari ridha Allah.. 
Sementara disini..
Membayangkan beliau hanya bisa tersenyum dari kejauhan..

Raga tak saling jumpa..
Hanya rindu dalam balutan sebait doa

Aah Raisa.. You make me jelous :(
Dan saya pun menjadi bagian dari Patah Hati yang lebih dari sekedar Patah Hati Nasional.





Note : Pict by Bridestory

---------- Ceuceumeo --------

Jakarta, 090917
@nhaegerhana

0

Ah Masih Kamu

Posted by Nhae Gerhana on 9:25 AM in
Cerita itu kamu..
Ketika berjejalan aksara
Kurangkai dalam doa.

Bisaku..
menitipkan kata pada pena.
Mampuku..
Berbisik pada bumi.
Caraku..
Menengadah mengetuk langit.





0

Paham

Posted by Nhae Gerhana on 9:14 AM in ,


Seiring waktu semua akan terasa lucu bukan..?

Dulu, saat kuijinkan namamu ada didalam coretan skenario hidupku..
Naskahku penuh dengan namamu.

Kertas putih dipenuhi tinta hitam syair tentangmu.

Ada goresan tawa, duka, dan luka yang terangkai kala itu.
Kini.. coretan tentangmu  telah memudar..
Mengikuti jejak sang waktu yang terus berputar..

Setelah kau pergi hilang tanpa kabar

Sudahlah..
Lupakan tautan hati yang dulu pernah beriringan.
Membakar mimpi yang kekeringan
Menyisakan tumpahan air mata kesedihan


Yaahh..
Rintik hujan telah membuat lembaran kertas itu basah.
Mengakhiri semua kisah.

Tak perlu langkahmu beringsut pulang
Karena rasaku telah hilang..


Pergilah.. untuk apa kau datang..


Paham ..







- Februari 2017 -




------------------- Ceuceumeo -----------------------

IG : @nhaegerhana

-



2

Al-Azhar Di Hati

Posted by Nhae Gerhana on 8:45 AM in
Jalanan Ibukota sudah mulai padat dan sesak sore ini. Sepertinya semua pengguna jalan bersaing ingin segera sampai ke rumah. Yaaahhh..Secara besok perkiraan sudah masuk awal bulan Ramadhan 2017, alias 1438 H akan jatuh.

Sementara Nahdatul Ulama masih memantau 90 titik hilal. Kementrian Agama pun menggelar sidang isbat. Sidang untuk menetapkan puasa Ramadhan, dengan memantau 77 titik hilal di seluruh Nusantara.

Saya juga termasuk seperti mereka yang ingin segera pulang (baca : Pulang ke KOSAN). Pengennya sih pulang ke rumah, apalah daya kerjaan yang masih bertubi-tubi memaku saya untuk tetap tinggal di Jakarta. Hati udah ikhlas puasa pertama bukan bersama keluarga. Tapi mungkin bersama calon keluarga. Eeaaa mulai Haluu.. hahaha..

Setelah keputusan bahwa besok, hari Sabtu tanggal 27 Mei 2017 adalah awal puasa Ramadhan.. Its means, Tarawehan sudah dimulai malam ini. Saya udah sangaaat menggebu pengeen meluncur ke Masjid untuk Shalat pertama sebelum puasa besok. Tapiiii, pekerjaan menarik saya kembali, meminta untuk menyelesaikan sebentar saja.. 

Rencana pulang cepat sedikit gagal, terganggu rintangan. Bukan saya namanya jika tak pantang menyerah.. Dengan sigap nebeng motor teman, meluncuuur ke Kosan tercinta.
Kecepatan zupeeer, memburu gojek menuju Masjid Al-Azhar adalah target utama saya hari itu. Sayangnya terlalu lama menunggu, sampai akhirnya saya hanya berharap sambil duduk manis makan sayur di warteg terdekat. 

Adzan Isya berkumandang.. Sadar akan terlambat tak menyurutkan niat saya untuk tetap pergi menuju Jalan Sisingamaraja Jakarta Selatan. Ayooo baaabaang gojeeeek come here pliiiisss..

Yes.. Alhamdulillah gojek siap mendarat.. Dan dengan kekuatan zuper plus komat kamit doa takut telat menerobos kemacetan Ibu kota.
Dan sampailah saya di Masjid Agung Al-Azhar..

Apaaan siih, lebay amat musti kesini segala. Yang dekeet aja kenapaaaaa???

Entahlah.. tempat ini sudah membuat saya jatuh hati tanpa henti. Setiap tahun menjadi rutinitas saya harus Taraweh disini. Energi semangat, tumpahan rindu sudah terlanjur tercurah pada bangunan yang sudah menjadi cagar budaya nasional ini. 

Tahun kelima saya di Jakarta, dan masih sama. Masih menyimpan harapan, curahan, kerinduan, dan rasa nyaman berada disini.

Sekali lagi entahlah...

Masjid ini menjadi saksi, teman, sahabat semenjak saya menginjakan kaki di Ibu Kota. Tempat penawar segala keluh kesah.. Tempat ternyaman menumpahkan kegelisahan, kepenatan, dalam sandiwara Ibu Kota. Hanya tempat ini yang membuat saya merasa tak asing tanpa bising.

Angin bertiup sepoi-sepoi, menggoyangkan dedaunan dari setiap pohon kokoh yang ada di sekitar Masjid. Masih seperti tahun-tahun sebelumnya..Tenda, meja, kursi, dan keramaian bazar di pelataran halaman masjid menghangatkan suasana Ramadhan.. 

Sejuknya malam itu, menerbangkan saya pada kenangan perkenalan 5 tahun lalu dengan Masjid ini. Berawal dari Siti Badriah, teman kosan yang mengajak saya Taraweh pertama di Masjid Al Azhar. Masih belom ada gojek seperti sekarang, kami pun berangkat dengan kopaja. Perjalanan yang cukup panjang dari arah mampang prapatan. Karena kami harus jalan kaki menuju lokasi setelah turun dari Kopaja.

Keesokan harinya,masih awal Ramadhan, di tahun pertama saya belajar Itikaf. Aaah masih abal-abal, masih belajar karena pertama kali dalam hidup nyobain itikaf tahun 2012 lalu. Masih tengak-tengok gak ada persiapan apa-apa.. Gak ngerti ilmunya. Hanya pengeeen itikaf, itu aja.
Bahkan, mau sahur aja masih bingung harus kemana. Karena peserta itikaf juga hanya satu dua orang Ibu-Ibu. Dan mereka sudah daftar, jadi disediain makanan. 

Naah saya?.. keluar sebentar cari makan sahur sambil deg-degan karena gelap.
Sampai akhirnya Itikaf jadi candu pada setiap Ramadhan.. Walau masih merangkak belajar sedikit demi sedikit..

Dari situlah, saya jadi tertarik ingin tau Masjid-Masjid lainnya di Jakarta. Dengan modal bibir tanya sana-sini saya bisa Tarling alias Taraweh keliling ke Cut Mutia, Istiqlal, dan Sunda kelapa.
Tapi ternyata hati saya masih jatuh pada pilihan yang pertama.Ya Allah, waktu di Bandung boro-boro bisa kaya gini.. Namanya juga awal massa-massa hijrah..hehehe..

Akhirnya, pas pertengahan bulan, sebagai warga Bandung pun akhirnya melakukan Tarling juga di kandang sendiri. Masha Allah, damainya berada di dalam Masjid..

Dan tahun-tahun berikutnya, Al-Azhar menjadi tempat terbaik bagi saya selama berada di Jakarta. Melihat kesungguhan orang-orang yang shalat disini, mengaji. Ibu yang dengan tulus menggendong anaknya, menenangkan untuk shalat.. Ayah yang sabar bersama anak lelaki dan gadis mungilnya, Security wanita yang sibuk merapikan Shaf Shalat, Nenek yang khsuyu membaca al-quran. Anak-anak muda yang semangat mendekat menghadap kiblat.

Yaaah disinilah saya mulai jatuh hati. 
Pada kebersihan tempat wudhunya..
Pada kerapihan di dalam ruangannya..
Pada rangkaian kegiatan Ramadhan setiap tahunnya..

Dan yang paling penting, pada wajah-wajah semangat menyambut bulan penuh berkah ini. Mencari Ridha Allah.

Alhamdulillah..

Semoga tahun berikutnya gak sendiri lagi kesininya.. Eeeehh koook ujung-ujungnya Curhat?? hahaha..
Gak papa.. di Aamin kan saja yaaaaa.. 
hehehe..

Yuuuuksss.. semangaatt meningkatkan ibadah, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, mengejar pahala di bulan Ramadhan.. 






Cerita ini tanpa maksud riya yaaaa.. Maaafkaaannnn,..Hanya curahan hati dari anak kosan.. hehe ^_^


---------------------------------- Ceuceumeo -----------------------------------

@nhaegerhana






Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive | Free Blogger Templates created by The Blog Templates