Mantra Tapak Rinjani

Percaya dengan mantra dari  sebuah kata "Semoga" ???
Mantra yang berupa doa, lalu tertangkap sinyal keyakinan, dan berbuah kenyataan.

Saya sangat percaya mantra "Semoga" itu. Yaapss.. Karena berbekal kata "Semoga" apa yang saya impikan satu persatu, perlahan Allah kabulkan, dan wujudkan dalam bentuk nyata. Betapa baiknya DIA bukan??

Ini hanya kisah sederhana, bukan impian besar dalam kehidupan saya. Hanya dari sinilah keyakinan pada mantra tadi semakin KUAT. Yang pasti sih, bakal banyak mantra lain yang akan saya rapalkan hanya padaNYA.. memohon ridhoNYA.

Okeeeiiiii.. Baiklaaaah.. ehhmmm..ehhm *ambil ancang-ancang menulis*

Masih inget cerita Ketika Merbabu Melepas Rindu ????   *berasa ada followers setia yang baca*..hahaha. Yaah kalo ada yang belom baca, bolehlah mampir ke cerita sebelomnya.. hehe..

Naah setelah dari Merbabu bulan November 2015 lalu, "Semoga" yang saya ucapkan berikutnya adalah "Semoga bisa ke puncak rinjani dalam waktu dekat". FYI sebelom ke Merbabu juga pake Mantra yang sama looh.

Daaaannnn, tanggal 30 Mei 2016 ada kesempatan kesana. Ssstttt Gratis pulaak semuanya. Tanpa mengeluarkan uang sepeserpun looh =P Yihaaa

Berikut sepenggal perjalanan kami, PPC.. Para Petualang Cucookks




----------------------------- Ceuceumeo---------------------------

Hujan siang itu tiba-tiba turun di Kota Mataram. Saya hanya bisa menatapnya dari balik jendela kamar Hotel. Seolah menemani kebimbangan saya untuk tetap berangkat mendaki Rinjani? Atau mengurungkan niat, dan pulang tanpa ada pertemuan?? Aah sedih membayangkan, batal melihat langsung tatapan senyuman Cantiknya puncak Rinjani.

Jadwal mendaki yang sudah saya buat, terpaksa harus mundur 1 minggu lamanya. Itupun masih harus saya pertimbangkan, karena kondisi fisik saya yang tiba-tiba mengalami kecelakaan. Sooo saya harus benar-benar mempertimbangkannya. Demi kelancaran bersama.. Looh Kenapaa??? kok bisa?? Secara duduk saja suliiit, jalan aja sakiit, dari duduk ke berdiri sakitnya khaan maiiin deeh.

Okee..kita flash back sedikit yaaa.. Jadi ceritanya gini. Saat perjalanan pulang dari Gili Meno, dan Gili Air. Kapal menepi dengan manis. Saat saya mau mengambil baju yang saya jemur di kapal, tiba-tiba badan gak seimbang, karena posisi kapal yang goyang terbawa ombak. seketika badan saya jatuh, dan tulang Pan**t, Mmm tepatnya tulang ekor dalam posisi duduk, tertancap ujung kayu kursi tempat duduk. Passsss banget  kena ujung bangku kayu yang lancip.. Sakitnya RUAAAAAR BIASAAAAA..!!!

Jalan aja sakit, duduk juga sakit bangeeeet. Di mobil gak bisa duduk, harus miring. Mobil di gas sedikit aja, sakitnya ampe ujung kepala. Jangan sampe deh ngalamin jatoh kaya gitu lagi.

Eniweeeiii... Karena tugas negara yang gak mungkin saya tinggalkan, besoknya saya harus Rappeling, dan ituuu sumpaah sakit bangeet. Tapi saya tahan. Gak sampe disitu, saya sempet kepeleset, dan pipi nyium batu (baca : beradu dengan batu).. Intinya siih, dapet oleh-oleh Kaki dan tangan memar.. haha..



Rappeling di air terjun benang kelambu
Daan besoknya setelah rappeling, saya harus naik bukit Dandaun di Sembalun dengan waktu 2 jam naik, 2 jam turun. Mantap bukan?? Eeeh kena sial lagi, kaki keinjek sapi yang berantem rebutan pengen minum. huuffttt.. Lengkap sudah penderitan.. hahaha. Duuh nasiiib.



Masih bisa senyumin si sapi =P
Eiiitttss, masih belom selesai broo siss..

Besoknya lagi saya berangkat ke Sumbawa Barat, dan selama 4 hari berikutnya saya harus menyelesaikan kewajiban saya lainnya. Gak mungkin saya tunda. Yaah melupakan rasa sakit di pan**t sejenak, meskipun terkadang sambil merintiiihhhh pediiih..
Udah biasa ini kan menahan sakit..??? #Eeeehhhh #pliisjangancurcol

Tapi saya jalani dengan ikhlas, introspeksi aja deh. Mungkin saya terlalu motah (dalam bahasa sunda. Artinya cari sendiri aja yaa..haha) di laut kemaren, mungkin ini teguran supaya saya bisa lebih hati-hati.

Naaah, dari Sumbawa Barat, akhirnya saya baru sempat periksa ke Dokter dan dikasih obat yang buanyak.
 

 

Untungnya saya punya waktu 1 minggu untuk badan beristirahat. Sampe akhirnya, memutuskan berangkat apa tidak?????

Setelah konsultasi dengan Bu Dokter Umuh yang super baik hati, beliau mengijinkan. Okeee.. dengan ucapan Bismillah, dengan ini dinyatakan,  diputuskan tanggal 30 Mei 2016 saya siap kopi darat, bercengkrama, menyapa keindahanNYA.

Looh kok ini intro CURHATNYA PAKE LAMA YAAA??.. hehe.. maafkaan.. Okeee Here We Goooowwww


----------------------------- Ceuceumeo---------------------------


Day 1
Tgl       : 30 Mei 2016
Lokasi : Desa Sembalun
Waktu : Pkl. 05.30 WITA

Pagi itu, dinginnya udara di Desa Sembalun membangunkan saya yang terlalu nyenyak dalam dekapan selimut. Setelah perjalanan tadi malam, selama 3 jam dari Kota Mataram. Disinilah, Desa yang jadi tempat kami memulai perjalanan.

Semua perijinan, perbekalan, persiapan telah rampung. Kamipun memulai pendakian. Eh iya, saya belum mengenalkan 4 orang teman seperjuangan yaa.. Okeei inilah kami. ^_^




Gombezz, Kipuls, Ale, Ryan, dan Icha Soebandono

Saya dan 2 teman saya, KIpul dan Gombez bukanlah anak Gunung yang biasa mendaki dan berpengalaman. Kita mah apa atuuh?? Hanya sekelompok manusia yang ingin memanfaatkan sisa usia untuk bertafakur alam.

Naaah karena itu, kami ditemani 2 cowok baik hati, tidak sombong, dan punya tenaga zupeeerr zekaliii.
 
Mereka Ryan dan Ale. Keduanya anak Mapala FE Unram. Karena merekalah, kami bisa berangkat dengan nyaman, aman, tentram, daaan menyenangkan. Oia kalo kalian butuh guide, bisa kontak mereka looh. Dijamin soleh dan solehah.. eh maksudnya soleh dan bersahaja.. ^_^

Udah yaa kita kembali ke cerita perjalanannya..


# Menuju POS 1

Jalur pendakian via Sembalun, jadi pilihan banyak orang. Karena treknya lebih mudah dilalui dibandingkan jalur lainnya. Ada 3 pos yang akan kita lewati. Menuju pos pertama, jalurnya masih datar dan aman. Hanya menempuh 2 jam perjalanan. Disinilah kita akan menikmati indahnya savana. 2 jam dijamin gak berasa.
 

 


upss maaf narsis

 

 




Yeaaayy Pos 1
 
# Menuju POS 2
 
 Dari pos 1 menuju pos 2 sekitar 1 jam. Kita bisa beristirahat sejenak untuk menikmati makan siang. Beruntung kami punya porter yang baik hati. Menu sederhana ala chef abang Porter jadi tenaga tambahan, sebelum melanjutkan perjalanan. Cerita lengkap soal porter, di postingan berikutnya yaaaps.

Pos 2










Berteduh
#Menuju Pos 3
 
Hujan deras pun turun, setelah ditandai mendung dan kabut di awal perjalanan. Bersyukur banget, waktu hujan turun, kami sudah berteduh.
 
Kami melanjutkan perjalanan kembali, setelah hujan reda. Medan berikutnya yang lebiih PR. Butuh waktu sekitar 5 jam. Gak hanya itu, ada 7 bukit yang wakib kita lewati.
 


Ryan dan Gombez




Ngarep banget bisa ke puncaknya. Abaikan plastik pada tas =P
 

Beruntungnya lagi, ketika hujan turun menemani kembali, kita sudah ada di Pos berikutnya.. wooow.. Thanks My God.

Dengan menikmati perjalanan, diselingi canda tawa. Semua jadi gak berasa.
 
Bahkan ajaibnya lagi, doa saya selama satu minggu sebelum keberangkatan, dan selama perjalanan dikabulkan. Rasa sakit tiba-tiba hilaaang, lenyaaap sekejap begitu aja looh.

Padahal, waktu di desa Sembalun masih berasa sakitnya. Duuh baek banget kan Allah :)

Ini dia yang namanya bukit penyiksaan. Dinamakan penyiksaan, karena kita butuh perjuangan melewatinya. Tanjakan tiada ampun, jadi tantangan. Ditambah tanah licin akibat hujan. Perlu hati-hati dan kerjasama antar tim niih.





Maafkan saya yang menghalangi kisah kalian..wkwkwk



Sayangnya,  cuaca lagi berkabut. Jadi pemandangan gak begitu terlihat. Tapiii keuntungannya terhindar dari panas terik matahari, dan debu :)

Gak hanya pendaki indonesia aja, banyak turis asing yang tertarik menapaki gunung ini. Sssttt, rinjani jadi gunung yang paling sering ditapaki wisatawan mancanegara looh.

 
 




 
 
Akhirnyaaa....setelah melewati 7 bukit, hujan, tanah becek, gada ojek.. tepat Pkl 17.00 WITA kami sampai di pelawangan. Sudah banyak tenda yang berdiri dan berjajar rapih.

Disinilah,  kami bermalam sebelum mendaki puncak pada esok dini hari. Kabut yang menyelimuti gunung rinjani seolah masih menyembunyikan pesonanya. Dinginnya udara sore, membuat kami sedikit menggigil begitu tiba di Pelawangan.


 

Ada yang tau, Kenapa di pegunungan terasa lebih dingin??
Karena dalam atmosfer bumi, ada massa udara yang naik ke atas. Semakin tinggi tempat, atmosfer akan semakin tipis. ketika udara masuk ke wilayah yang atmosfernya tipis,  seperti di gunung,  udara akan memuai.
 
Dan pergerakannya melambat. Itulah, jadi suhunya dingin. *tepuk tangaaaan*
Suhu looh yang dingin yaaaa.. bukan hati..haha #kemudianbaper

Apalagi di waktu malam dan pagi hari. Beeuuuh dinginnya gak nahan. Tapi waktu yang pas untuk menuju puncak adalah dini hari sih, supaya kita bisa melihat matahari terbit.



 #SUMMIT





Terdengar suara Ale membangunkanku dari balik tenda. Dari luar suaranya masih terdengar samar memanggil. Ah rupanya sudah Pukul 3 dini hari. Kami harus bersiap mendaki.

Saat pukul 1 pagi, udara sempat kurang bersahabat, Ale dan Ryan sebagai tour guide kami pun sudah memperhitungkan waktu dan cuaca jika tidak memungkinkan untuk muncak saat itu. Tapi karena cuaca semakin baik, akhirnya jam 3 pagi kami bersiap.

Hanya tinggal saya dan Ryan. Yaah hanya kami berdua yang memang paling terakhir. Rombongan pendaki lain, sepertinya sudah mendaki beberapa jam sebelum kami.

Sedangkan 2 teman saya, Kipul dan Gombes udah bergegas muncak, karena mereka mengejar sunrise untuk keperluan gambar. Apalagi puncak rinjani dikenal punya tingkat kesulitan yang tinggi.
Tapiii semua itu bisa dihadang dengan tekad yang kuat, untuk sampai puncak. Merdekaaaa..


Saya tak bisa menatap sekitar yang gelap. Tanjakan yang sulit, berkelok, curam, ditambah suasana sepi, hening. Masih kebayang deh suasananya, berasa udah mau nyerah sebelom perang.

Apalagi hanya tinggal kami berdua pulak. Awal pendakian menuju puncak ini, yang saya rasa lebih berat. Padahal menurut beberapa pendapat, justru yang berat adalah tanjakan terjal terakhir saat menuju summit. Tapi tidak buat saya.. Sumpah titik awal ini yang berat.  

 
Disinilah tantangan terberatnya. Selain gelapnya malam, medan pijakan berupa pasir lembut membuat kaki sulit melangkah. Ditambah tanjakan yanag semakin terjal, harus kita lewati. Waaah makin lengkap perjuangannya. Perlu kesabaran, dan kekuatan. Waktu tempuh sekitar 4 jam perjalanan.

Hanya doa..
Sebagai dinding perlindungan..
Sebagai selimut dari bayangan kekalahan..
Hanya rasa yakin..
Sebagai tiang kuat melewati setiap langkah.
Berbekal harapan yang saya simpan selama perjalanan.

Matahari sudah menampakan cahayanya. Sunrise adalah bonus, jika saya tak sempat melihat sang mentari pagi yang baru saja bersinar, itu bukan hal utama bukan?? Karena setiap detik lensa mata menangkap betapa Besarnya Ciptaan Sang Maha Kasih.

Senang rasanya akhirnya keluar dari sunyi, setelah hampir 1,5 jam tanpa melihat sesama pendaki. Akhirnya saya bertemu dengan beberapa orang yang beristirahat. Ada juga yang memutuskan kembali pulang, padahal sudah setengah jalan.


Ini dia, tanjakan terakhir yang harus ditaklukan.



 
Saling sapa dan semangat antar pendakipun tersampaikan.. "You Can Do It" itulah yang dilontarkan Mba bule ketika berpapasan dengan saya. Senyum sumringahnya terpancar, karena dia baru saja dari puncak. Seolah hatinya berkata "Saya udaah looh..kamu semangat yaa..iyaa kamuuu" haha

Tips dari saya, jangan sering liat ke atas. Don't look up. Jalani aja, nikmati aja.. Jangan lupa isi setiap langkah dengan doa. Kayanya itu mujarab banget, dengan kondisi tulang ekor saya yang sebenernya masih sakit. Tapi selama perjalanan gak berasa sakit. Terasa sakit hanya di waktu malam menjelang tidur.
Oke, lanjuut yaaa..
Daaan Yeaaaaayyyyy.. Akhirnya bersyukur  bangeet bisa sampe puncaaak. Semua terbayar dengan pemandangan cantiknya rinjani. Yang penting sih, bukan menaklukan gunungnya. Tapi menaklukan diri sendiri.. Saiikk kaan?? Heheehe
Gunung rinjani adalah gunung berapi tertinggi kedua di indonesia. Ketinggiannya mencapai 3.726 mdpl. Dari puncak, kawah gunung yang udah gak aktif terlihat. Di sebelah timur ada gunung tambora, disisi barat ada gunung Agung Bali.

Ceritakanlah pada alam
Karena dialah penghalau pisau tajam
Jutaan rasa syukur begitu dalam
Hilanglah lelah yang bersemayam

Semesta bicara tanpa kata
Nyanyian rindu pada sang Pencipta
Rasa syukur tiada tara
Menghilangkan semua luka

----------------------------- Ceuceumeo---------------------------

DAY 2
Lokasi : Pelawangan Sembalun
Waktu : Puk. 13.00 WITA


Setelah turun dari puncak, hujan deras mulai meramaikan tenda kami. Rencana geser ke danau Segara terpaksa kami urungkan. Dan kami putuskan menginap satu malam lagi di Pelawangan Sembalun. Jadi kami bisa memanfaatkan waktu untuk istirahat lebih lama.
 
 
DAY 3
Lokasi : Pelawangan Sembalun
Waktu : Pkl. 07.00 WITA
 
Kami bergegas menuju Danau Segara. Waktu pagi hari paliing pas. Karena kami akan menginap di Pelawangan Senaru. Perjalanan meuju Danau Segara sekitar 3 jam 15 menit. Kami tiba di Segara Anak Pkl. 10.15 WITA.


Foto sebelum menuju Danau Segara
 
 
Lokasi : Danau Segara
Waktu : Pkl. 10.15 WITA

Segara adalah nama danau. Dikenal dengan sebutan Segara Anak. Luasnya mencapai 11.000 meter. Danau dengan kedalaman 230 meter ini, terlihat megah dan indah dilihat dari ketinggian looh.
Emang sih, untuk liat yang indah-indah tetep perlu perjuangan ya. Setelah turun dari puncak, kita harus melewati beberapa turunan, dan jalan terjal menuju lokasinya.
 
 



Ngarep Pengarangnya liat ini..Pliis
 
 
Lokasi : Pelawangan Senaru
   Waktu : Pkl.17.10 WITA
 
Dari Danau Segara, butuh waktu 2,5 jam menuju Pelawangan Senaru. Sebelumnya, porter kami, Mas Toto bilang, kalo perjalanan kesana udah mirip kaya Spiderman.

Wow ternyata terbukti benar adanya. Jalan yang banyak bebatuan, tanjakan yang gak asal. Kita harus manjat, dengan bantuan 2 tangan ala Spiderman terbukti nyata adanya. Dan itu gak hanya sekali dua kali pemirsaah. Tapi disitulah keseruan dan tantangannya.

Hati-hati menggunakan handphone atau kamera, karena beberapa tahun sebelumnya ada turis asing yang terjatuh dan meninggal di tempat karena tidak memperhatikan jalan yang curam. Terlalu asyik dengan kameranya. Itu info yang saya dengar disana.



Contoh kecil jalannya



Tapiii.... gak nyesel deh nenda alias ngecamp alias nginep di Pelawangan Senaru.. Apaaa?? No Pic hoax??
Okeeey... niiiihhhhh barbuknya yaaa..




Sunset Pelawangan Senaru


 
 
 
 ----------------------------- Ceuceumeo---------------------------


Day 4
Lokasi : Pelawangan Senaru
Waktu : Pkl.08.00 WITA

 





Ini kisahku.. Mana kisahmu?? =P 

Its time to say good bye... See You next time Rinjani. Kami turun, dan memakan waktu selama 7 jam. Dengan sisa tenaga yang masih kami punya, sisa semangat yang masih kami simpan.

Bagi saya bukan hanya keindahan saja yang terlihat. Tapi melibatkan perasaan yang saya dapat.


Kalo saya bisa, kenapa kamu engga??
Kalo mereka bisa, kenapa saya tidak mencoba??

Bermodalkan mantra "Semoga", rapalan berikutnya adalah menapakan kaki pada puncak Gunung lainnya :)

Terima kasih banyaaakk Ryan, Ale, Gombes, Kipul, dan 3 porter terbaik Mas Tono, Mas Adi, dan Pak Jum :)

Kalo butuh porter, bisa loh kontak Mas Tono di 081917200072
 



----------------------------- Ceuceumeo---------------------------



Bandung, 01 Juli 2016
@Nhaegerhana
 
 

Comments

  1. Indahnyaaa 😍😍😍😍

    ReplyDelete
  2. Tetaplah dengan mantra "semoga" :)

    ReplyDelete
  3. Hebat yah Nhae, meski cedera dan sempat khawatir ga jadi naik, kamu bisa sampai puncak dengan foto foto yang kelihatan segar. Hebat emang.

    Saya kalah nih sama istri kalau urusan naik gunung. Dia udah naik beberapa gunung termasuk Rinjani, saya baru Gede Pangrango doang hahahaha.

    Selanjutnya mau lanjut kemana Nhae?

    ReplyDelete
  4. @Dyah shinta : Makasih mbaa dah mampirr.. Iya bangeeet indahnya :))

    ReplyDelete
  5. @berbagi cerita :siaapp teh..mnuhun dah mampir..ayeee :P

    ReplyDelete
  6. @cipu : Baaang cipuuuu.. alhamdulillah banget..hehe.. Waah gayalah yang udah punya istri..btw selamat yaa.. hehe..Insyaallah next Semereu.. Doakan yaaa.. btw makasih dah mau baca yaakkk

    ReplyDelete
  7. Jujur saja, saya fokus ke foto nya. indahnyooo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. Emang indaahhh pake bingiits.. Makasiih yaaa :)

      Delete
  8. Kereeen euy jalan ceritanya, setelah baca serasa baru kemarin menjajal ke puncak Mahadewi Rinjani. Berharap bisa kesana lagi deh, yuk ah mari ucapkan sebuah kata mantra "semoga" biar segera kesana πŸ˜πŸ˜‚

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Amigdala - Ku Kira Kau Rumah

Kisah Perjuangan Umi Tri Handayani Melawan Kanker

Cerita Rambut Merah Bilalang