Kotak Kado Ketika Itu

Tepat malam ini, di tanggal yang sama 15 tahun yang lalu. Aku membuka jendela, mataku memandang bulan yang sama sepuluh tahun silam. Kenanganku menerawang terbang menyirat kenangan.

Ketika itu.. tanpa tau jalan menuju rumahmu, hanya menerka dan bertanya kakiku melangkah pasti, bertaut rasa rindu. Berharap sambut haru kan berseru.

Ketika itu.., tepat usiamu bertambah. Yaah genap 18 tahun. Aku tak punya modal uang yang besar untuk membelikanmu sebuah kado yang mahal. Aku tak yakin apakah hadiah dariku akan membuat hatimu tersentuh. Saat itu, aku hanya ingin membuat suasana hatimu bahagia, tepat jam 12 malam, Berharap hatimu bertalu ketika menerima sebuah kado istimewa yang tak seberapa ini.

Tanpa rasa takut dalam gelapnya malam, menelusuri jalan yang tak ku kenal dengan kendaraan angkutan umum. Entah apa yang mendorong sikap nekat di seusiaku saat itu. Aah sudahlah. Angkutan umum berwarna hijau melintas, tanpa ragu aku bertanya jalan dan berdoa pulang dengan selamat.

Jantungku berdegup semakin kencang ketika hampir sampai di lokasi yang kucari. Sampai akhirnya aku berada di depan gerbang Jalan Sudirman No. 48 Kota Cimahi. Inilah rumah yang aku tuju. Berada di pintu gerbang saja sudah membuatku terasa ngilu. Persendian mulai kaku, dan debaran jantungpun tak bisa kuhentikan. Semakin berdegup kencang.

Aku titipkan kado kecil ini pada pembantu rumahmu, dan pergi begitu saja. Berlalu terburu buru.

Mungkin jika sudah ada HP saat itu, aku tak perlu jauh jauh menuju rumahmu. Tapi yang jelas,
Mungkin jika perasaanku saat itu tak membludak tak akan aku seniat itu memenuhi keinginan hati.
Mungkin jika aku bisa menahan gumpalan rasa sedikit saja. Aku tak akan sebodoh itu.

******

Aku menggenggam secarik kertas kusam 15 tahun silam. Tulisannya sedikit pudar, namun kenangan masih berkobar. Aku hanya bisa diam, terpaku dalam ingatan, mengorek sisa kenangan.

Secarik kertas ini adalah naskah ucapan yang kutulis, kubaca, lalu kurekam di kaset kosong menggunakan tape recorder. Seolah seperti penyiar radio yang memberi sapaan hangat pada pendengar, itulah yang aku rekam saat itu. Bukan hanya menyapa hangat, tapi menyapa dengan penuh harap. Tentu saja terbungkus nada ceria penuh kepalsuan. Menutupi letupan rasa yang sebenarnya saat itu. Disambung lagu-Sheila On7. 

Tak sampai disitu, aku berkeliling sekolah merekam ucapan ulang tahun dari semua teman dari kelas 1 sampai kelas 3, anak anak osis, pramuka, paskibra, pencinta alam, tukang es campur, bibi warung, aaahh semua ku datangi. Satu kaset berwarna hijau durasi 60 menit full dengan rekaman suara dan lagu. Tanpa berharap banyak, hanya ingin melihat senyum mengembang diwajahmu. 

Semoga berkesan sahabat..

Iya, sahabat..

Kami memang bersahabat. 

*****

Kami sering menghabiskan waktu bersama. Berbagi cerita suka, duka, kejahilan, semua mimpi kami tumpahkan. Hanya satu yang tak pernah kami bagi. Soal rasa. Rasa yang pernah ada, tak pernah tersampaikan.

Gelak tawa kami membuyarkan kesedihan. Senyuman hangatnya meneduhkan hatiku yang terkikis perlahan. Mata kami bertemu, kupalingkan wajahku. Tak ada keberanian menatap dalam. Karena aku tahu, semakin dalam maka semakin ku terjebak dalam ruang, terkurung dalam kepasrahan.

Kamu pernah berkata, di tempat inilah kamu bersembunyi dari keramaian. Hanya aku yang selalu menemani dalam luka yang pernah tergores. Hanya aku yang siap menjadi teman pelipur lara dari pelayaranmu pada semua gadis berambut panjang, berkulit putih. Sampai akhirnya aku hanya menunggu kamu berlabuh pada pelabuhan terakhir hatimu, ketika itu.

Pita kaset masih dapat berputar. Namun suaranya tak lagi sama. Perlu media khusus untuk menikmati alunan musiknya. Kini keberadaannya tergantikan, semua berpaling pada kemajuan zaman.
Begitupun perasaan yang masih berputar di sebuah ruang. Telah tergantikan dengan harapan baru meninggalkan kisah putih abu.



Jakarta, 24 Okt 2015












Comments

  1. Kisah putih abu itu, sisanya kini menyahdu :)
    Hehehe... saya masih mengoleksi beberapa kaset pita, Mbak, berikut tape recordernya. Kala-kala tertentu saya putar, sambil menyeruput kopi, mengenang masa lalu.

    ReplyDelete
  2. nah ini ketauan nih masa remajanya jaman kapan

    ReplyDelete
  3. @Pak Azzet : hihihi, waaah pasti lagu lagunya jadul ya pa?? hehee

    @Mba Milaa : Sssssttt itu kan cerpen kaak cerpen #ngelees hahaha

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Amigdala - Ku Kira Kau Rumah

Kisah Perjuangan Umi Tri Handayani Melawan Kanker

Cerita Rambut Merah Bilalang