Rahasia Sebuah Harap Dalam Balutan Doa

Malam ini malam yang luarrr biasa.. Sangat luar biasa, bahkan teramat sangat luar biasa bagi Nadja. 

Cahaya Bulan menemaninya.. Bentuknya bulat penuh menampakan keindahan. Kerlipan bintang, turut memberikan senyuman terhangatnya.

Langkah Nadja terhenti sejenak, tertarik pada apa yang dilihatnya. Seorang pria muda, tengah berjalan ke arah Nadja. Dengan pakaian ihram yang bersih, menggendong seorang wanita tua dengan penuh ketegaran, tanpa paksaan.  Tangan kanan pria itu sebagai alas duduk Ibunya. Tangan kirinya, menjadi tumpuan punggung sebagai sandaran. Tatapan mata yang hangat, seolah rasa letih tak ia rasakan. 

Nadja tertunduk malu, teringat pada seorang wanita yang telah melahirkannya. Terlintas pengorbanan apa yang telah dia balas untuk wanita yang dicintainya itu. Seorang Ibu yang telah melahirkannya. Hanya menarik nafas panjang dan melanjutkan langkahnya. Jarinya masih erat menggenggam tasbih seraya berdzikir.

Angin semilir menyapanya dengan lembut, menemani setiap kalimat indah asmaul husna yang terucap dari hatinya. Tak lama matanya tertuju pada pria tua, yang berjalan sendirian. Ah dia tidak berjalan, tapi meluncur dengan roda buatannya. Tanpa memiliki kedua kaki yang sempurna. Hanya menggunakan bantuan kedua tangannya untuk mendorong alat bantu itu. 

Wajah keriput pria itu terhalang oleh pancaran semangatnya. Tiba tiba seorang Ibu muda meghampirinya, memberikan beberapa real pada pria yang mengenakan gamis berwarna cokelat yang sudah lusuh. Dengan senyuman ramah, pria tua itu menolak halus lalu melanjutkan perjalanannya.. Ah semakin tertampar hati Nadja saat itu. Disaat orang yang kekurangan tetap memiliki semangat juang, tanpa membatasi ruang, tak tergiur akan uang. 

Mereka melanjutkan langkah.. Yaah langkah yang sama.. Menuju rumahNYA.. Tempat dimana semua arah shalat menghadap. Sebuah kotak hitam yang selalu dirindukan.

Ini adalah hari kedua Nadja berada di kota yang telah ia impikan sejak lama. Kota yang selalu ia ucapkan dalam setiap bait doa. Berada disana menjadi impian terindah yang jadi kenyataan. 

Setelah berwudhu dan shalat di dalam masjid, tak terasa butiran lembut berlomba keluar dari sarangnya. Membasahi kelopak mata dan sebagian wajah Nadja yang berwarna cokelat.

Tiba tiba seorang gadis cantik menyapa Nadja dengan keramahannya.

"Hii.. What is your name?"  dengan senyuman, gadis  berwajah tirus, dengan hidung mancung membuka obrolan.

"Haloo, My name is Nadja. and you? where are you come from?" Nadja antusias menyambut pertanyaan gadis itu

"My name is Aisyah.. Im from Pakistan.. And you?? " sambil mengulurkan tangannya, mereka berbincang semakin akrab.

Aisyah menceritakan kisahnya pada Nadja tanpa sungkan. Dia datang bersama suaminya, dan besok akan mulai melakukan umrah keduanya. Sudah lima tahun Aisyah belum dikaruniai anak. Dia berharap sekali kehadiran buah hati yang sudah ia nantikan sejak lama. Aisyah pun membawakan beberapa gelas yang ia isi air zam zam untuk dibagikan kepada beberapa wanita yang duduk di sebelah kami. Tentu saja, berlomba lomba melakukan kebaikan sangat dianjurkan bukan??.. 

Aisyah pun tak kalah penasaran dengan kisah Nadja. Mereka berbagi cerita, berbagi harap,dan berbagi doa agar segala keinginan segera dikabulkan.

Tanah haram, disinilah umat muslim berkumpul dari seluruh penjuru dunia. Memohon segala ampunan. Tempat mustajab melantunkan doa. Tak pernah letih memuja kebesaran Maha Pencipta, Maha Kasih Sayang, Maha Kuasa..  Entah kapan doa terkabul, kita tak akan bisa menjawabnya. Keyakinan, kepasrahan menjadi selimut dalam doa yang tulus.

 “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat/menyebut-Ku. Jika ia mengingat/menyebut-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingat, menyebutnya dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingat/menyebut-Ku dalam suatu perkumpulan, maka Aku mengingat/menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka (perkumpulan malaikat). Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari.” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Nadja kembali menuju hotel, melirik pada matahari yang bersinar terik. Seraya berbisik, malam tadi mendapatkan tiga pesan dalam waktu singkat. Betapa Allah begitu baik mengajarkannya dari hal hal yang tampak dan ia temui. 

Langkahnya semakin mantap untuk selalu mengadirkan hati dalam setiap doa :)


@nhaegerhana



 

Comments

Popular posts from this blog

Amigdala - Ku Kira Kau Rumah

Kisah Perjuangan Umi Tri Handayani Melawan Kanker

Cerita Rambut Merah Bilalang