Sepotong cerita

Segelas lemon tea, dan ice tea tepat ada di hadapanku sekarang.. Berdiri tegak di atas meja di sebuah cafe dengan nuansa yang homey.. Gelas gelas itu bukan milikku.. saya hanya bisa menatapnya,sambil menunggu adzan magrib berkumandang.

Obrolan tadi siang dengan dua sepupu saya, tidak hanya meninggalkan dua gelas seruputan mereka.Melainkan meninggalkan kesan,dan mengingatkan saya kalo kita sudah dewasa..

Kulihat dua punggung mereka meninggalkan cafe ini berlalu dengan senyuman hangat.. Dulu kita bertemu dan saling berebut makanan,saling cubit,berlari di sawah,jajan kesana kemari.. Dan semua sudah berlalu..

Saya duduk terdiam,ditemani sebuah novel setahun lalu yang saya beli,dan baru sempat saya baca sekarang.. Redupnya lampu di dalam ruangan,menemani setiap detik yang berlalu disini.

Rasanya malas sekali beranjak dari kursi ini.. Sambil menunggu waktu berbuka puasa,saya putuskan diam sejenak,menikmati alunan musik mendayu.

Terkadang menikmati kesendirian di tengah keramain,menjadi pelipur lara.. Meskipun beberapa waiters tampak heran dengan saya yang hanya duduk tanpa memesan apapun..Dan itu sudah berlalu hampir dua jam lebih.. Mungkin mereka tau,saya hanya numpang wifi gratis..hihi..

15 menit lagi adzan berkumandang.. mata saya tertuju pada menu unik dengan media botol sebagai tulisan pilihan menunya.. Chocolate Milkshake jadi pilihan yang akan menyegarkan tenggorokan.

Entah rasa apa yang membuat saya kembali ingin mencurahkan perasaan yang dulu pernah singgah ..halah..haha

Kali ini,rasa itu hadir kembali,membalut angan dan harapan.

Sejujurnya saya tdk terlalu suka akan perasaan ini.. Terlalu mengganggu dan menyita waktu.. Tapi apa dikata,rasa yang tak bisa ditolak dan dicegah.

Biarkan saja berlalu bagai debu,yang akan tersapu lalu terbang menghilang..

Perasaan yang saya takuti,datang tanpa permisi.. membuat nafasku menjadi lebih sesak dari biasanya..

Adzan sudah berkumandang, pesananku pun telah datang..

Chocolate milkshake ini, meluncur sukses membangkitkan gairah menulis.

Saya meneguknya pelan,dalam pikiran yang menerawang. Teringat senyuman simpul miliknya. Sorotan mata lembutnya menatap,membuat hati saya luluh lantah. Bait kalimat yang terucap, sedikit sentuhan keisengan darinya.

Dering handphone membuyarkan lamunan. Tersadar mata saya menatap kosong pada sebuah novel.

Rupanya devi,teman saya sudah menjemput dan siap berbagi cerita berikutnya bersama teman yang lain. Saya meninggalkan kursi perlahan, melupakan sejenak kenangan bersamanya.

Tegukan terakhir chocolate ini,menjadi amunisi sementara. Membiarkan alam bawah sadar berhenti berharap, kembali memulai dunia nyata yang sesungguhnya.






Comments

Popular posts from this blog

Amigdala - Ku Kira Kau Rumah

Kisah Perjuangan Umi Tri Handayani Melawan Kanker

Cerita Rambut Merah Bilalang