Mengabaikan Virus Corona, atau Pesan Yang Belum Tersampaikan ???

Setelah kehadiran virus corona COVID-19, dunia mulai gempar. Virus berukuran 125 nano meter atau 0,125 mikro meter ini, sukses merubah gaya hidup milyaran manusia di muka bumi. 


Termasuk di Indonesia. Berawal dari terungkap adanya kasus positif pada bulan maret 2020 lalu, kita mulai percaya, ternyata virus ini benar-benar ada. Apalagi, sekarang dia tak main-main. Penyebarannya semakin luas dan sukses membuat sebagian masyarakat cemas.



Pemerintah pun berupaya melakukan pencegahan. PSBB, Social Distancing, karantina mandiri diberlakukan. Manusia dipaksa melakukan aktifitas belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Yaaa, Stay at home. 



Cuci tangan, jaga jarak, gunakan masker, di rumah aja, stay safe, stay healty digaungkan untuk saling mengingatkan. Semua hanya untuk satu tujuan. Memutus rantai penyebaran si virus sampai waktu yang belum dapat diprediksikan.



Teknologi menjadi pemeran utama selama pandemi. Wabah COVID-19 menjadikan kita lebih akrab dan mengandalkan teknologi digital. Ruang jarak tergantikan dengan ruang virtual dalam berkomunikasi, dan bersosialisasi.


Menggunakan masker, dan tidak berkerumun ketika keluar rumah menjadi suatu keharusan, guna  pencegahan adanya penularan.

Namun, tidak semua mengindahkan aturan yang telah diberlakukan. Sebagian orang masih acuh, cuek, bahkan berperilaku seperti biasanya saat corona belum menyerang.

Bahkan, menjelang Hari Raya Idul Fitri kemarin, warga berbondong-bondong belanja baju baru. Mereka rela berdesak-desakan, mengabaikan, mengacuhkan virus corona yang masih berkeliaran tak pandang bulu.

Tanpa ada rasa takut, tak peduli resiko yang akan dihadapi, padahal wabah belum surut. 

Lalu timbul pertanyaan, kenapa ?? 
Apakah kita yang terlalu berlebihan menghadapi si virus ?? 
Atau mereka yang terlena hasrat konsumerisme ??


Saya jadi teringat peran dari Pesan Komunikasi. Sebuah peristiwa atau pesan yang sama, orang akan menanggapinya berbeda-beda, sesuai keadaan dirinya. 

Words don't mean; people mean. 
Yapsss.. kata-kata tidak punya makna, tapi oranglah yang memberi makna.

Dalam ilmu komunikasi, inilah yang disebut dengan komunikasi intrapersonal. Manusia menerima informasi, mengolahnya, menyimpannya, dan menghasilkannya kembali.

Komunikasi intrapersonal atau komunikasi intrapribadi adalah komunikasi yang dilakukan dari diri sendiri, untuk diri sendiri dengan tujuan untuk berpikir, melakukan penalaran, menganalisis, dan merenung.

Naaah komunikasi intrapersonal ini, meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Okeeeh Gaiiis, sekarang kita coba kupas satu persatu tentang komunikasi intrapersonal ini yaaa.

1. Sensasi

Sensasi artinya alat pengindraan yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Alat indera kitalah yang jadi awal kita menerima sebuah infomasi. Dengan alat indera, kita jadi punya pengetahuan dan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan.
Dan setiap orang punya sensasi yang berbeda. 

Contoh, orang yang suka makanan pedas  ketika makan ayam geprek level pedas tertinggi akan merasakan rasa yang biasa aja. Berbeda dengan orang yang gak doyan pedas, baru level 1 saja udah menjerit kepedasan.

Singkatnya, sensasi adalah proses menangkap stimuli.


2. Persepsi

Persepsi inilah yang menghasilkan makna pada stimuli inderawi. Pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi mengubah sensasi menjadi informasi.

Lalu hubungan dengan perilaku masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan selama pandemi apa???

Bhaaiiq, jadi menurut pendapat  saya jika dikaitkan dengan teori psikologi komunikasi, karena persepsi dalam menerima sebuah pesan. 

Persepsi sendiri ditentukan oleh faktor personal dan situasional. Dalam hal ini, masyarakat masih kurang pemahaman, petunjuk untuk bertindak. 

Komunikasi yang disampaikan Pemerintah terkait wabah, masih menggunakan bahasa yang sulit dipahami masyarakat. Sepertinya hanya kalangan menengah ke atas yang mengerti berbagai istilah baru yang dikeluarkan di tengah wabah.

Balik lagi, persepsi adalah proses memberi makna pada sensasi, sehingga manusia memperoleh pengetahuan baru. 


3. Memori

Menurut Schlessinger dan Groves (1976:352), memori adalah sistem yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya. 

Oke gaisss, jadi memori ini berperan penting baik persepsi maupun berpikir. Karena memori berperan dalam proses menyimpan informasi dan memanggilnya kembali.


4. Berpikir

Berpikir dilakukan untuk memahami realitas, untuk mengambil keputusan, memecahkan persoalan, dan menghasilkan yang baru. Mengolah dan memanipukasikan informasi untuk memenuhi kebutuhan atau memberikan respon.

Intinya sih, kalo kata Anita Taylor et al, Thinking is a inferring process (Taylor et al. 1997:55) . Berpikir sebagai proses penarikan kesimpulan.


Soooo, itulah sedikit penjelasan tentang sensasi, persepsi, memori, dan berpikir yang jadi bagian dalam komunikasi intrapersonal atau komunikasi intrapribadi.


Barangkali komunikasi intrapersonal inilah, yang menjadi salah satu kendala, kenapa masih banyak masyarakat yang belum waspada. Nekat pulang kampung, ketemu keluarga, nongkrong berkerumun dengan teman sebaya, bahkan masih ada yang memanfaatkan situasi tanpa peduli sesama.


Tulisan ini mendadak ingin saya tuangkan..

Ketika mempertanyakan sebuah pesan yang belum jelas tersampaikan..

Ketika ajakan stay at home, jaga jarak, gunakan masker, masih diabaikan.

Ketika merasakan diem dikosan sudah mulai bosan.





***** Stay safe, Stay Healthy 


Sumber :
Buku Psikologi Komunikasi - Drs. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc



----------- Ceuceumeo --------------


Comments

  1. Saya termasuk yang ikut khawatir dengan pelonggaran PSBB nya. Sepertinya memang prinsip NIMBY (not in my back yard) itu sangat mengakar ya. Harus nunggu ada tetangga/keluarga yang kena dulu untuk memperketat aturan physical distancing.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Amigdala - Ku Kira Kau Rumah

Kisah Perjuangan Umi Tri Handayani Melawan Kanker

Cerita Rambut Merah Bilalang