Kartini Muda Menghipnotis Kuda Menari


Ehmmmmmm...

Sebenernya, ini tulisan yang udah pengen ditulis dari bulan Maret 2015 lalu. What???..Uwooooow setaun lebih 1 bulan molornya..kereeen kaaan?? hahaha..Maklumlah yaaa, apa daya jemari tak kuasa menahan rasa malaisyaaa yang berkepanjangan. Yaaaah terlalu banyak mikirin kamu siiih..Iyaaaa kamuuuuhhh =P hahaha.. heuup ahh.

Berhubung tergabung dalam group 1 Minggu 1 Cerita yang memberi TERORRRR setiap hari Jumat. Hari terakhir memposting cerita setiap minggunya. 
Hoalaaaahh... INI UDAH HARI JUMAT WOIIIII, BURUAAAAAN... JAM 23.30 MAAAAK.. *buru-burucaribahantulisan.


Sooooo dengan bijaksana, keputusan menulis pun terdorong sempurna. Baiklaaaah mari kita menari.. Eh maksudnya mau cerita soal KUDA MENARI. kaya kamuuu yang selalu menari di pikiran akuuu.. iyaaa kamuuuh.. *Apasiih #maafkanmulailebaytakberkesudahan.

HERE WE GOOOOOOOO

*-------------------------*



Polewali Mandar, Maret 2015


Alunan musik rebana terdengar bersahutan di sepanjang jalan Desa Pambusuang Kelurahan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat siang itu. Matahari pun tak mau kalah memberikan sinar terbaiknya. Masyarakat berbondong-bondong keluar rumah, tak mau sedetikpun kehilangan moment. Tak hanya itu, wisatawan dalam dan luar negri pun bersaing mendapatkan hasil jepretan maksimal.

Warga yang nonton

Polisi siap mengamankan lalu lintas


Para gadis cantik, berpakaian merah mulai jadi sorotan mata Nona dan Tuan. Sanggul tradisional membuat indah tampilan. Riasan wajah anggun rupawan, pakaian tradisional dikenakan, dengan aksesoris yang tak berlebihan. Saya hanya mengernyit kepanasan, membayangkan betapa hebatnya para perempuan itu. Tetap tersenyum memandang kiri dan kanan.

Mereka duduk di atas kuda pilihan. Dikawal beberapa pasukan, tanpa memperlihatkan rasa gemetaran ketika beraksi, berdiri di atas kuda tarian. Aah inikah putri kebanggaan massyarakat pedesaan yang kini tampil elegan???

yeaaay nongol dikit boleeeh laah yaaah
Rangkaian kuda dengan gagahnya berjalan perlahan. Merasakan setiap dentuman irama musik tarian. Bersiap menampilkan aksi di setiap perjalanan.

Inilah acara tahunan, yang diselenggarakan masyarakat Mandar, Sulawesi Barat. "Festival Kuda Menari" namanya. Masyarakat mandar menyebutnya SAEYYANG PATTUQDUQ. Secara harafiah, artinya kuda yang menari-nari. Arak-arakan kuda yang menggoyang-goyangkan kepala, dan dua kaki depannya. Tentunya ditemani gadis cantik yang menunggang kuda.



Penunggang kuda disebut PISSAWE. Pakaian yang dikenakan dinamakan Pasangang Mamea. Sebelum diarak, wajah si Gadis belia ini harus berdiri menghadap mentari. Maksudnya untuk menyerap energi cahaya. Ada makna filosofis yang terkandung. Tujuannya supaya mereka tetap bercahaya. 




Tentu tidak mudah bukan? perlu latihan, juga keseimbangan dalam menaklukan kuda menari. Penunggang kuda juga tak sembaranan. Sikap duduk harus sesuai ketentuan. Harus terlihat elegan, sopan, dan indah dipandang. Pandangan mata harus kedepan. Wajah pun tidak boleh menunjukan keangkuhan. Tidak boleh menunduk. Meskipun kuda mulai bergoyang menikmati musik yang dimainkan. Pissawe harus tetap terlihat tenang, duduk manis. 

Semua sikap tersebut tentu punya makna. Menggambarkan wanita Mandar yang tenang. Itulah simbol ketegaran hidup setiap wanita. Pantang menyerah, terlihat kuat dalam setiap masalah. Wowww, patut jadi contoh dalam menyikapi setiap masalah. Hmmm.

Saeyang Patuqduq digelar saat puncak perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Atau, ketika seorang anak khatam membaca Al-Quran. Sebagai motivasi bagi si anak, untuk diarak keliling kampung. Yaaaah, memang Masyarakat Mandar sebagian besar menganut Agama Islam. 

Kita telusuri sejarahnya.. Ehmmm..Begini kawan..hehe..
Mulanya "Kuda Menari" hanya berkembang di kalangan istana. Berbeda dengan sekarang, dimana semua lapisan masyarakt berpartisipasi, dan bersorak gembira menyambutnya. Bahkan keramaian suasana, mengalahkan kemeriahan hari Lebaran.







Penasaran.. Kenapa kuda yang dipilih???
Kuda dalam kehidupan masyarakat suku mandar, ajdi alat transportasi utama sejak dulu. Pada masa kerajaan, setiap pemuda masyarakat Mandar dianjurkan pandai berkuda. Kuda Menari sudah terlatih lama. Kuda akan menggerakan kepala, menyesuaikan irama. Hentakan kaki silih bergantian dimainkan. Bahkan tak jarang kaki diangkat ke udara, menunjukan kebolehan. Lucu juga menyaksikan kuda menikmati musik dengan asikkk.




Tak kalah penting adalah rombongan pengiring musik yang tak leleh memukul rebana. Pakaian berwarna cerah, sengaja mereka tonjolkan. Tampil mencolok dan aksesoris jadi pelengkap. Tak hanya rebana, alat musik yang dimainkan mereka. Setiap kelompok memainkan tempo musik yang hampir serupa. Kobaran semangat pemain rebana ini, terlihat dari gerakan tarian, setiap mempertemukan pukulan tangan pada kulit rebana.



Gw kece dari lahir


Goyaaang maaang


Ternyata, tradisi Kuda Menari punya makna filosofis lainnya yang tak kalah penting. Menghargai kaum wanita. Semua bisa terlihat saat kerabat mengiringi arak-arakan. Simbol penjagaan terhadap penunggang kuda, yaitu perempuan yang akan tetap dijaga dari awal sampai akhir perjalanan. So sweet bukaan???

Pas banget dengan tanggal 21 April yang diperingati sebagai HARI KARTINI *Padahal gak sengaja posting cerita ini* hehe
Wellll... Bisa dibilang, Perempuan penunggang kuda menari, jadi simbol 'Kartini Muda' dari Suka Mandar yang bisa kita banggakan. Bukan hanya dari tampilan. Tapi kita lihat dari sisi keanggunan, ketegaran, kebudayaan, dan kearifan lokal yang tetap mereka pertahankan.

Mengikat setiap golongan, tanpa ada perbedaan.
Tertawa lepas dalam setiap hembusan nafas.
Kuda Menari memberi arti.


Tak sekedar makna filosofi.


Numpang foto yaaaa ^-^





------------- Ceuceumeo --------------
Djakarta, 22 April 2016
@NhaeGerhana

 



Comments

Popular posts from this blog

Amigdala - Ku Kira Kau Rumah

Kisah Perjuangan Umi Tri Handayani Melawan Kanker

Cerita Rambut Merah Bilalang