Kabar Dari Khaibar

Dari balik jendela kaca mobil, mata saya menatap langit yang selalu tampak sendu akhir-akhir ini. Tak jarang dengan cepatnya awan putih berganti kegelapan, lalu menumpahkan bulir-bulir air berjatuhan. Mereka tak kenal pagi, siang, dan petang. Turun serentak, bersahutan. Terkadang sedikit mencemaskan kawasan yang waspada banjir akan menggenang. Tatapan saya siang itu belum beranjak dari balik kaca mobil. Kali ini menangkap bangunan kokoh menjulang sepanjang jalan di Jakarta Pusat. Ingatan saya kemudian menyeret perlahan pada perjalanan 35 hari yang lalu. Tepat di bulan Januari. Masih dari balik jendela kaca mobil. Masih menatap langit di luar sana.. Hanya saja, waktu itu langit begitu cerah, matahari tak segan menampakan sinar cahayanya.. Bukan bangunan menjulang tinggi ala metropolitan yang tertangkap lensa mata. Melainkan gunung bebatuan yang berbaris megah. Padang pasir yang luas. Dan sesekali tampak bangunan tua di kanan kiri jalan. Tak a...