Segelas Air Putih Dan Puasa Daud

"Aku heran Mas. Kenapa kalo aku bilang aku lagi puasa daud. Mereka menatapku kaget. Bahkan jawaban-jawaban yang tak enak terkadang keluar dari mereka." tanyaku sambil menunduk pada lelaki yang mengenakan batik saat itu.

"Itu karena gak semua orang paham kalo puasa daud itu, lebih disukai Rasulullah SAW." jawaban sederhana darinya membuatku merasa senang,

Akhirnya ada yang mengerti dan paham tanpa harus aku jelaskan. Ah siapa pula aku yang masih miskin ilmunya untuk menjelaskan. Lelaki di hadapanku jauh lebih banyak ilmunya. Dia jauh lebih paham. Bahkan ini kesempatan aku untuk belajar banyak darinya. Selagi ada dia disini, aku bisa mencuri ilmunya. Dia baru saja kembali dari sekolahnya di Madinah. Kebetulan hari itu kami bisa bertemu, setelah lebih dari satu tahun perjumpaan terakhir aku dengannya. 

Baru kali ini aku merasa lebih baik. Karena ada teman seumuran yang membenarkan tindakanku untuk melaksanakan ibadah sunah ini. Alhamdulillah 3 tahun lebih berlalu dengan puasa daud, dan aku masih istiqomah menjalankan ibadah ini. Bukan karena siapa-siapa. Hanya mengharapkan ridha Allah. Apapun terkaan, sangkaan, kupentalkan jauh tak kupedulikan. Karena ini adalah komitmen dan sesuatu yang aku jalankan hanya karenaNYA.Malah, lebih baik kalo lagi puasa, diam. Malu rasanya kalo ada orang yang tau. Karena aku kotor. Puasa bukan karena aku sok paling benar. Tapi justru karena banyak kelalaian, dan dosa yang aku perbuat. Itulah yang membuat aku berusaha untuk menabung pahala di akhirat kelak.

"Namanya juga mencari pahala." tambahnya lagi.

Ah benar, terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku malam itu. Aku sudah terbiasa dengan tanggapan nara sumber, teman, atau orang2 yang aku temui ketika mereka tau aku sedang puasa.
"Ini hari apa? kok puasa?"

"Puasain siapa?"

"Hari gini masih ada yang puasa daud?"

"Siapa gurunya?"


Awal-awal dulu masih masuk hati. Kok rasanya sediiiih. Orang yang menanggapi muslim yang keliatannya taat, dan tau syariat. Tapi aku kembalikan lagi pada My Allah. Ini hanya segelintir ujian kesabaran.

Bahkan, teman dekat aku pun berkomentar yang membuatku hanya bisa terdiam sejenak.
"Puasa yang biasa-biasa aja laah. Puasa yang umum aja. Senin Kamis cukup." inilah tanggapan terakhir dari seorang teman dekatku kemarin. Dia yang sangat rajin kajian, ngajar ngaji aja menganggap aku terlalu berlebihan. Ya Allah..

Tapi karena aku merasakan kenikmatan puasa ini, biarlah mereka mau bilang apa. 

Lelaki di depanku sesekali memainkan IPhone baru miliknya. Menyimak semua ceritaku. Tersenyum, dan masih mau mendengar cerita-cerita ku yang terus mengalir keluar begitu saja. Dia pun menghabiskan tegukan terakhir segelas air putih miliknya. Meminta waiter mengisi air itu kembali.

Tak terasa 3 jam berlalu. Gelas kami sudah sama-sama kosong. Dia mengambil gambar lilin yang ada di meja. Lalu memposting dengan tulisan tentang rasa syukur.

Terima kasih untuk 3 jam yang berlalu dengan cerita dariku.

Hanya segelas air putih, sedikit cahaya lilin, tapi penuh rasa syukur.



#Cerpen



Comments

Popular posts from this blog

Kisah Perjuangan Umi Tri Handayani Melawan Kanker

Amigdala - Ku Kira Kau Rumah

Cerita Rambut Merah Bilalang