Meniti Langkah Dan Arti Sebuah Persahabatan

Ini alam nyata, aku harus berjuang jika ingin sesuatu. Aku masih meniti langkah, artinya aku harus siap dengan segala realitas sampai akhirnya aku berada dua meter di bawah tanah. Aku meniti langkah selama masih menginjak tanah. Sejak dulu aku suka melangkah dengan kaki telanjang, dan kini pun aku masih tetap menyukainya walau kaki yang satu masih berjuang untuk berpijak dengan sempurna.


 


Sepenggal bait kalimat dari buku "Meniti Langkah" karya sahabat saya Sutri Yaningsih Manik. Buku yang menceritakan sebuah perjuangan di tengah keterbatasan. Dia menulis dalam keadaan stroke, pada usianya yang masih sangat muda.

Dua tahun setelah bukunya terbit, sahabat saya pun berpulang pada bulan januari 2015. 

Waktu itu, saya sedang berada di Aceh, dan sangat terkejut mendengar kabar duka tersebut. Terakhir kami bertemu saat menjadi MC di acara reuni akbar Paskibra SMP 1 Margahayu Bandung. Dengan keterbatasan dia berjalan, tanpa keluhan dan menyembunyikan kesedihannya. Wanita yang kuat dan tangguh.

Darinya saya belajar keberanian dan kesabaran.
"Nhae sabar itu buahnya manis" kalimat darinya yang selalu saya ingat ketika saya curhat. 

Saya termasuk orang yang introvert, tak pernah menceritakan hal yang pribadi pada teman. Tapi padanya, saya tumpahkan semua. Dan dialah teman satu-satunya yang sangat saya percaya. Begitupun sebaliknya. Semua kisah keluarga, pertemanan, dan kisah cintanya dia curahkan pada saya.

Kami bersahabat sejak masa Sekolah Menengah Pertama, sampai kami pun bekerja di radio yang sama. Dari zaman jahiliyah sampe kita sama-sama hijrah.

Allah menyayanginya, dan sahabatku sudah tenang disana. Dia sangat rajin itikaf, sering datang ke kajian di masjid Istiqomah Bandung. Walaupun dengan keterbatasan stroke yang dia alami. 
Sesalku, tak ada disisimu di masa-masa perjuangan sakitmu sahabat.

Setelah kepergiannya, hanya doa yang bisa saya panjatkan. Mengirim Al-fatihah selepas shalat untuknya menjadi rutinitas. Lalu seketika itu juga, terbersit pertanyaan dalam hati kecil saya.

"Siapakah yang akan mendoakan saya jika saya pun kembali padaNYA??"

Ya Allah.. 
Sekarang saya paham akan perintahMU untuk berteman dengan sahabat-sahabat yang solehah. Karena merekalah yang bisa menyelamatkan kita pada akhirnya.

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis: 
“Jika kalian tidak menemukan aku nanti di syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku: wahai Rabb kami, hambamu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau, maka masukkanlah dia bersama kami di syurga”

Sahabat yang sesungguhnya, ialah mereka yang selalu mengingatkan kita akan Allah dan mereka yang akan menggiring kita ke syurga.

Al-Hasan Al-Bashri berkata: 
“perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafa’at pada hari kiamat”. 

Saya bukan orang yang shalihah, tapi hanyalah manusia penuh dosa dan khilaf. 

Kematian hanyalah rahasia Allah.. Tak harus tua dan menunggu kita siap. Kapanpun ajal bisa menjemput..
Mari kita sama-sama memperbaiki diri dan mencari teman, sahabat karena Allah.. Dan tentunya persahabatan sampai di jannahNYA..

Jika berkenan, mohon doanya untuk sahabat saya Sutri Yaningsih Manik.. Semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah, dan diampuni segala dosa-dosanya, serta segala amal baiknya diterima Allah SWT.. Al - Fatihah..



---------- Ceuceumeo -----------


Bandung, 01 Januari 2018

@nhaegerhana


 

Comments