Tentang Jakarta Dan Keterasingan

Lampu-lampu jalan berpendaran, ketika malam mulai menempati tugasnya. Dari sudut jalanan Ibukota terlihat deretan bangunan kokoh menjulang tinggi menunjukan kekuasaannya. Mataku mulai menyapu satu persatu kendaraan yang berlalu lalang tak ada habisnya. Suara bising dan orang asing melintas tiada batas.

"Aaah Jakarta, sudah genap 5 tahun aku menitipkan sebagian kehidupanku disini." hatiku berbisik pelan. 

Tanggal 1April 2012, menjadi tanggal bersejarah dalam kehidupan baruku. Dimana keputusan besar, dengan mantap untuk hijrah meninggalkan kota kelahiranku..Yaaahh..Bandung.

Ingatanku menerawang, mengingat keraguan yang pernah bersemayam kala itu. Apakah aku harus mengambil pekerjaan ini, dengan resiko kontrak selama 5 tahun??
Apakah aku sanggup melewati 5 tahun dalam sebuah ikatan kerja di Ibu Kota??
Apa mungkin, rentetan tanggung jawabku di Kota asal, bisa aku selesaikan dengan berpindah??

Ternyata semua keraguan, kekhawatiran, keresahan, dan kecemasan hanyut ketika kita berpasrah dan yakin kepada Allah SWT.

Terngiang suara Bunda yang menyadarkan sekaligus memompa semangatku..
 "Keraguan adalah awal dari kegagalan.. Jangan takut, karena ada Allah..Bukankah ini impianmu dari dulu?? Allah sudah kasih, jangan sia-siakan. Ambilah kesempatan ini." Dengan nada lembut namun ada ketegasan sambil menatapku penuh keyakinan.

Bunda memang benar. Jakarta menjadi kota impianku. Pada kota yang memiliki gedung pencakar langit terbanyak ini, aku menaruh harapan masa depan, sejak dulu. Tak peduli betapa panas, dan padatnya jumlah penduduk yang menempati Kota ini. Jakarta tetap memikat ketika kutatap kembali dengan lekat. 

Sampai akhirnya,waktu punya cara yang unik untuk menjawab semua keraguan, kecemasan yang singgah kala itu. 5 tahun sudah berlalu, banyak cerita dan kenangan bertalu.

Tapi sayangnya.. 5 tahun bersama, aku masih belum mengenalmu dengan akrab.
Mungkin karena kondisi pekerjaan yang membuatku selalu meninggalkan hiruk pikuk disini. Terbang berkunjung pada anak-anak kota lainnya. Membuatku terhindar dari gemerlap Ibukota. Hari-hariku banyak berjalan di luar pulau dengan segala keindahannya.

Kemudian aku teringat pada sebuah karya tulisan Seno Gumira, dalam bukunya affair - Obrolan Tentang Jakarta. Dalam bukunya, kita akan terbawa dengan suasana Jakarta yang dipuji sekaligus dicaci. Keresahan kaum intelektual di tengah absurditas Jakarta melalui eksistensi manusia. Kegermelapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal karena kegermelapan Jakarta tidak mencerminkan kegermelapan jiwa warga kota.

Apa iya, dalam potret kisah Jakarta, di dalamnya terdapat jiwa yang kosong?? Disaat Para pengembara terus berusaha dalam pencarian masa depan.

Jakarta memberikan warna baru dalam ceritaku. Karena bagaimanapun, aku adalah bagian dari Kota ini.. Meskipun masih terasing, dalam perjalanan coretan ceritaku tak pernah kuambil pusing. 

Seperti pesan Bunda, "Dimanapun berada, ada Allah yang teramat dekat" 
Jadi apa yang dikhawatirkan selama kita punya keyakinan. 

Selamat 5 tahun di Ibu Kota, dengan sejuta cerita. :)











------- Ceuceumeo ------

Jakarta, 11092017

@nhaegerhana





Tulisan untuk #1minggu1cerita

Comments

  1. Waaah selamat 5 tahun :-)
    Saya sempat nangkring 3 tahun di seputaran Mampang hehe.. Dan masih selalu kangen beredar di Kemayoran atau GBK .
    Salam kenal
    imangsimple.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Waaah selamat 5 tahun :-)
    Saya sempat nangkring 3 tahun di seputaran Mampang hehe.. Dan masih selalu kangen beredar di Kemayoran atau GBK .
    Salam kenal
    imangsimple.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. ya ampun jadi ikutan ngitung.
    kalo gitu aku sudah tahun ke 10 menyesapi asap bu kota.

    ReplyDelete

Post a Comment