Camilan Jengkol Khas Orang Banjar Kalimantan Selatan


Siapa disini yang doyan jengkol???
Udah ngaku aja.. Gak perlu senyum-senyum malu-malu mau gituuu..hehehe.. =P

Aneka Jengkol

Cewe makan jengkol, udah bukan hal yang aneh dan bikin tengsin kok. Apalagi sekarang popularitas jengkol sudah makin hits di beberapa kota besar. Bahkan udah ada resto yang khusus menyediakan jengkol sebagai menu utamanya. Jengkol dibuat dengan aneka olahan sebagai teman makan siang bersama nasi.

Tapi, apa kabar kalo jengkol jadi camilan?? Jengkol dimakan tanpa nasi, dan jadi bekal camilan di kampus atau di kantor.
Hmmmmm..  Seriuuss ada??

Jawabannya ada doong..
What?? Gak kebayang ngemilnya jengkol.
Sedikit rasa tak percaya ketika Bang Jani, seorang teman yang tinggal di Banjarmasin bercerita tentang kedai jengkol fenomenal yang ada di Kota Banjarmasin.

Tepat bulan Oktober tahun lalu, kebetulan saya ada tugas di Kota Banjrmasin Kalimantan Selatan. Kali kedua saya menginjakan kaki di Kota seribu sungai ini. Kota yang punya banyak kuliner tradisional yang selalu membuat penasaran. Tak terkecuali jengkol khas Banjar.

Karena rasa penasaran, pagi itu saya bersama dua orang teman pergi menuju kedai Ibu Hj. Fatimah, yang ada di Jalan Dahlia 2 No. 48 Kecamatan Banjarmasin Barat.

Udara pagi yang masih segar, ditemani raja siang yang perlahan muncul dari kejauhan. Mobil Avanza hitam, bergerak meninggalkan hotel tempat kami menginap.

Sesampainya di tujuan, saya pun berkenalan dengan seorang Ibu dan putrinya yang sangat baik dan ramah. Yah beliaulah Ibu Hj. Fatimah dan Mba Diana. Ibu Fatimah mulai menceritakan dengan antusias bagaimana kedai ini bisa berdiri dan eksis sampai saat ini. Suasana akrab yang menyenangkan dengan Bu Fatimah dan Mba Diana. Sesekali kami pun bersenda gurai sambil mencicipi jengkol jagoan disini,, Hmmmm.. boleeeh juga rasanya.

Kedai jengkol yang sudah ada sejak tahun 1979 ini, awalnya dikelola oleh Ibunya Bu Fatimah. Dan saat ini, usaha tersebut diteruskan oleh generasi pertama, yaitu Ibu Hj. Fatimah sendiri. 



Setiap hari, jengkol  buatannya kerap kali laris manis dihajar pembeli. Pembeli tak hanya dari dalam kota saja loooh. Dari luar kota pun, setiap hari jumlahnya meluber. Warung yang sederhana ini, buka dari Pkl. 06.00 – sore hari.Bahkan siang hari pun, jengkol sudah habis tak bersisa.

Pembeli rela antri dari pagi, demi mendapatkan jengki favoritnya.
Ssstttttttt.. kebanyakan, yang mengantri adalah perempuan looh. Rata-rata mereka membeli sebelum berangkat ke kantor. Ada juga yang sengaja membeli borongan, kemudian mereka jual di luar Kota.

Pembeli borongan

Teeenaaang, jengkol yang dibuat Ibu Fatimah gak menyebabkan bau mulut kook. Itulah yang menjadi nilai plus jengkol khas Banjar yang satu ini.

Karena ada rahasia selama proses pembuatannya. Yaaps..Memerlukan waktu cukup lama sampai rasanya empuk, dan baunya hilang. Bahkan...Total prosesnya memakan waktu selama 20 jam. Waah cukup lama kaan??.

Ehmm.. saya kasih bocoran rahasianya yaaa.. Jadi begini..

Jengkol direndam sebelum dioalah selama 1 hari 1 malam. Setelah itu, direbus dengan air mendidih selama 3 jam. Proses perebusannya gak main-main. Karena dilakukan 2 kali. Itulah yang membuat teksturnya lembut.




Setelah direbus, jengkol dipipihkan dengan kayu supaya rasanya lebih lembuuut.  Jengkol  yang dipilih tentu yang bentuknya bagus. Jengkol yang tidak lulus seleksi, dimasak menjadi semur jengkol,  balado,  dan rendang. 



 
Memipihkan jengkol
Jengkol tidak sendirian. Karena ada pendamping dan pelengkapnya. Masyarakat Banjarmasin menyebutnya Lalaan.  Saos khas Banjar, yang terbuat dari santan.

Begini cara membuat santannya.
Santan dimasak sampai terpisah antara air dan lemaknya. Harus terus diaduk selama proses mengolahnya.  Supaya tidak gosong dan lebih cepat matang. Tunggu sampai minyaknya keluar. 

Memasak santan


Tampilannya seperti ini..


Jengkol khas Banjar
Lalaan dikenal juga dengan nama tahilala. Cocolan saat makan jengkol, yang rasanya gurih. Oiiiaaa... La’laan juga biasanya jadi teman kue petah. Kue khas Banjar, yang terbuat dari tepung beras dan kapur sirih. 

kue dan lalaan

Cita rasanya yang sedap, dan tanpa berbau inilah yang menjadi daya tarik konsumen. Dalam sehari, bisa menghabiskan 300 kg jengkol. Artinya, sebanyak 500 bungkus jengkol habis setiap hari. Wow.. 

Awalnya saya sedikit ragu saat mau mencobanya. Ternyata rasanya memang enaaaakk. Pantas orang Banjar menyukainya. Karena saya berasa seperti bukan makan jengkol yang biasanya. Jengkol dicocol dengan lalaan, wajib kalian coba jika berkunjung ke Kota ini.
Harganya hanya Rp. 10.000,- 

Tumbuhan yang punya nama latin archidendron pauciflorum ini, memang berasal dari Asia Tenggara ya. Dia termasuk suku polong-polongan. Jadi sebenernya jengkol yang kita makan itu adalah biji dari tumbuhan tersebut.

Masyarakat banjar mengenal jengkol dengan sebutan jaring. Jangan takut makan jaringya, karena ada sisi manfaat dari kudapan yang satu ini. Selain bisa mencegah diabetes, baik juga untuk kesehatan jantung.

Kandungan protein yang tinggi pada jengkol, membantu pembentukan jaringan dalam tubuh  Dia juga kaya zat besi. Sooo bisa mencegah dan mengatasi kurangnya sel darah merah dalam tubuh kita.

Eiiiitttsss... Tapi jangan berlebihan mengkonsumsinya yaaaa. Karena ada kandungan asam jengkol. Semacam asam amino  yang bisa menyebabkan djengkolism. Penumpukan kristal di saluran urin yang dikenal degan jengkolan. Selagi masih ada manfaatnya, nkmati aja.. asal secukupnyaaa yaaa.

Ibu Fatimah

Pembeli untuk dijual ke luar kota

bungkusan jengkol



 ------------------ Ceuceumeo ----------------
@nhaegerhana



 

Comments

  1. uwaaaahh.
    Jengkoool.. salah satu makanan yg belom pernah aku makan sampe skrg karena takut nanti bakal suka dan ketagihan 😂😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi.. coba aja dulu yang berbumbu. Awalnya aku juga ga sukaa. Sekarang sih kalo ada ya ga nolak..wkwkw

      Delete

Post a Comment