Diary Najwa

Cause I would go the distance for you, baby
I'd travel 'round the world if you would let me
I'll meet you where the sun it always shines
You're on my mind, all the time
We are not wasting this

Cause you and I we're good together, oh
You always get me feeling better
And I know you stay by my side
You make me feel much better
Cause girl we're good together


[REPEAT UNTUK KESEKIAN KALINYA]

Lagu milik duo elektronik soul asal Inggris ini masih terus tak mau lepas dari telinga. Yaaah Honne - Good Together. Mungkin efek dari penampilan memukau keduanya bulan maret 2017 kemarin di Jakarta. Membuatku sampai detik ini masih belum bosan memutar semua lagu-lagu mereka. 

Hmmmm... Atau karena ketertarikan nama Honne. Nama yang diambil dari bahasa Jepang, "Niat yang murni." Aaaahhh entahlah.. Karena semua alasan itu hanya alibi saja. Siapa pun yang tampil saat itu,tetap akan sukses membuatku jatuh cinta dengan lagu dan penampilan mereka. Lebih tepatnya lagi, pada lagunya. Karena sejujurnya, aku tidak sempat memperhatikan aksi panggung, karena aku terlalu sibuk meredakan detak jantungku yang lebih kencang dari biasanya.

Yaaah alasan sesungguhnya karena  aku sedang bersamanya. Dia yang sama sekali tak pernah ku duga kehadirannya. Dia yang tiba-tiba saja Tuhan mempertemukannya denganku. Dia yang lama menghilang. Dia yang sudah kulupakan.. 

Lama... Sangat lamaa. Saking lamanya, aku hampir tidak mengingat pernah berusaha melupakannya. Yaaah itulah dia.

------------------------------------------------

Januari 2015

"Najwaaaaaa.. Eeeehhh lo lagi di Aceh kan??" suara Keira terdengar melengking dari handphonku.
"Halooow Keiiii, ngucapin salam kek, ini maen nabrak aja." sambutku tak mau kalah dengan suara melengking

"Hehehehe.. Iyaa, Assalamualaikum Ukhty.." Dengan nada yang dibuat manis dan cengengesan Keira menyapaku lagi.

"Walaikumsalam Kakaak Keiraa yang cantik. Apaan siih.. Lo tiba-tiba telpon grasak grusuk gitu." Aku mulai menyalakan remote TV ddi dalam kamar

"Iya Naaaaj.. lo kan lagi di Aceh, naaah gw dapet kabar kalo si Hans, ternyata Dines di Aceh looh." Keira kembali dengan suara yang cukup semangat.

"Haaah ?? Hans manaaa?" tanyaku kaget

"Aduuuhh Najwaaa.. gaak usah pua-pura hilang ingatan deeh. Ituuu Hans, temen SMP kita dulu. Kan lo sempet deket sama dia. Ah elaaaah.. Tau gak sih loo.. Dia sekarang udah jadi Tentara loooh.. hahaha.. " Keira mulai bernada tengil ala menyebalkan seperti biasanya

"Laaah teruuuusss.. So whaaat Keira Dirgantara anak Pak Sobri??. gw harus bilang WOW gitu?" balasku yang sebenarnya menyembunyikan sedikit kaget dan penasaran, tapi tertahan gengsi.

"Idiiiih.. udah, mumpung lo disana. Kalian wajib harus ketemuan yaa.. gw kasih no nya sama lo. Gak mau tau, giih sana saling berjumpa. Menjalin tali silaturahmi.. Nambah rezeki loh bersilaturahmi. " Kali ini suara lebih cepat dan cukup serius

"Hahaha.. bisa aja lo. Iyeee, nanti kalo sempet gw kontak doi."

Percakapan kami berakhir. Tak lama Keira mengirim nomer HP Hans.. Aku terdiam sejenak. Mencoba mengingat nama itu. 

Hans Putra Aksara. Sudah hampir 12 tahun aku tak pernah dengar nama itu. Bahkan hanya bertemu di sosial media pun kami tak pernah. Aku jadi ragu,apa dia masih mengenalku?? 

Whaatt..12 tahun..?? it's mean.. ah sudahlah, lupakan usia..hahhaa..

Walaupun selama itu, tapi masih ada sedikit ingatanku tentang nya. Hanya sedikit loh, tak lebih. 

Baiklah, sedikit bocoran, yang aku ingat tentangnya adalah.. Hmmm.. Dia anak yang sangat cuek dengan penampilan, bukan masuk golongan populer di Sekolah, sedikit pendiam.. Tepatnya Cool.. Thats why.. I like him.. xixi.. upss..

Tapi..kenapa setelah 12 tahun lamanya, hatiku merasa deg-degan mendengar nama dia disebut ya?. Mau mengetik WA saja rasanya campur aduk.. Oh My God.. Whyyyyyy????
Oke Najwaaa, dia kan hanya teman, plis biasa aja..

Aku mulai mengetik pesan. Dan yes terkirim... *MauPingsanAja*

***
Aceh

Matahari pagi tersenyum sumringah sepertinya. Panasnya Kota Sabang tak bisa tertahan lagi. 

Siang pun berganti malam yang siap memulai tugasnya. 
Tibalah waktuku bertemu dengan Hans..
Jujur yaah.. Aku masih heran dengan rasa grogi, dan jantung yang tanpa permisi berdetak lebih cepat dari biasanya.  

Karena aku akan bertemu dengan Hans. .Ah tidak.. biarkanlah aku bertingkah biasa saja.

Sosok tinggi, tegap, rambut rapih, dan kulit putih duduk di lobby Hotel tempatku menginap. Jaket hijau bertuliskan nama band metal tampak dari depan. Langkahku semakin pelan, memastikan apakah dia Hans.. teman semasa Sekolah Menengah Pertamaku.

"Heeiiii Haansss..Sorriiii lama nunggu yaaa? Apa kabar??" sapaku ceria mencoba biasa saja
Hans mengangkat kepalanya dan menatapku sejenak. Entah apa yang dia pikirkan. Ah sudahlah..

"Gak kok, baru juga sampe. Mau kemana kita?" Hans terseyum tipis dengan santai

"Kaan lo yang udah jadi warga sini. Terserah Pak Bos aja, mau makan dimana." jawabku sambil tersenyum lebar 

Hans membukakan pintu mobil untukku. Aku memulai mencari bahan obrolan, sesekali melihat ke arahnya. Kadang aku pun menangkap matanya yang melirik ke arahku. 

Cafe dengan nuansa vintage akhirnya yang kami pilih. Lokasinya sekitar 10 menit dari Hotel. Cafe yang saya kira jadi tempat nongkrong anak muda di Kota Sabang.

Banyak cerita yang membuat memori-memori lama keluar. Hal konyol tentang massa-massa Ababil pun mengalir menjadi buah bibir.

Kami mengabsen beberapa nama teman dan kembali mengingat massa-massa itu. Tawanya begitu lepas. Sorot mata meneduhkan, dan menenangkan. Hans sangat berbeda dengan dia yang dulu. Aku rasa sekarang dia mulai memperhatikan penampilan. 

Kini badannya lebih berisi, dengan gaya bicara yang berubah dan sangat dewasa. 

Dia memesan segelas kopi hitam.. Aku, memesan segelas cokelat panas.
60 menit percakapan aku dan dia.. 
Melahirkan sebuah candu, Akankah berbuah rindu??
Sehangat rasa kopi dari negri seribu kopi..

Kenapa baru kali ini..
Berjumpa kembali..
Gula yang terlarut dalam cokelat
Kuaduk lebih pekat 
Menarik hati yang mulai terpikat
Karena senyumnya yang masih melekat..
Dari Indonesia di Ujung Barat 
Cerita baru siap mendarat


****
Jakarta 

Suara klakson mobil bersahutan. Lampu jalanan mulai menyambutku kembali ke Ibokota. Sesampainya di rumah, aku mulai membuka lemari lamaku. Dimana semua rahasia tersimpan. 

Aku membuka satu persatu diary yang aku tulis dari semenjak Sekolah Dasar. Ada banyak buku dan diary yang menjadi tumpahan cerita saat itu. Hanya satu yang aku cari. Cerita tentang Hans.

Aku tak mengingat jelas apa yang pernah terjadi antara aku dan Hans. Karena selama kami bertemu di Aceh, aku tak berani menanyakan hal tentang kami, dulu. Sampai akhirnya aku menemukan satu diary, dengan sampul Winny The Pooh. Coretan tahun 2000.

Aku mulai antusias membuka lembaran demi lembaran.. membaca apakah aku pernah menuliskan nama Hans disitu. Dan aku terpaku..

Pada lembaran yang ada di tengah buku aku menemukan nama itu. Tertulis CAPSLOCK.. Bahkan namanya dijadikan sebagai JUDUL TULISAN.. 

Oh My God.. aku pernah seperti ini padanya.. DULU..
Rangkaian cerita demi cerita tertulis jelas disana. Rasanya aku sedikit tak percaca jika aku dulu begitu detail bercerita. Menyebut nama, tempat, dan waktu kejadian begitu sangat jelas.

Sampai akhirnya.. diary itu sukses menyeretku pada kisah putih-biru. Membuatku kembali merasakan gumpalan, pecahan rasa pada zamannya. Kembali mengenal dan menyelami siapakah Hans yang pernah singgah waktu itu.

Sekarang aku mengerti..
Kenapa ada derap talu saat aku mendengar kembali namanya.
Dan berjumpa dengannya.

Kini puzle-puzle kenangan itu, perlahan merayap mengunjungiku dikala gerimis.


----- BERSAMBUNG ------
^__^

@nhaegerhana



 

Comments

  1. Nice story, meski sedikit aneh seorang Hans, tentara namun berkulit putih. Untuk seorang single-tentara-bukan orang lokal- sepertinya Motorsport lebih keren.
    Cmiiw, salam kenal

    ReplyDelete
  2. hihihi.. Iyaa yaaa.. makasihhh looh dah mampiirrr.. Salam kenal jugaaa :))

    ReplyDelete

Post a Comment