Lalu Ku Jatuh

Bunga itu tersimpan rapih di meja. Kemasan yang cantik, segar dan mekar merekah. Disampingnya ada kartu ucapan dengan kalimat yang sangat manis. Aku bisa membaca tulisan si pengirim dengan sangat jelas..

Kata-kata bukan puitis tapi terlihat jujur. Sebuah ucapan doa, harapan, penantian, serta kerinduan tertuang di dalamnya.
Tak lupa pengirim bunga pun menulis inisial namanya tepat di ujung bawah kartu itu. -S A-

"Najwaaaaaa... pesanan udah diantar belom?"   Teriak ibu mengagetkanku seketika.
"Iyaaaa Buuu.. sebentar lagi Najwa antar" balasku segera sebelum ada pekikan kedua.

Mataku masih mematap layar Hand phone. Mengeja kembali caption di foto yang baru saja aku temukan "love 💕"

Itulah postingan dari wanita itu. Wanita cantik, berkulit putih, hidung mancung, dengan tinggi semampai.
Yaah aku mengenalnya, namun dia tak tahu siapa aku. Tentu saja, sebenarnya aku hanya sekedar tahu dari hasil kekepoan tak jelas. Menghasilkan riset mendalam siapa dia.. Gadis cantik berjilbab lulusan kampus ternama di Ibu Kota Jakarta.

Sudah seminggu ini, Aku tak bisa segesit biasanya. Entah kenapa energiku seolah terserap dan berkurang separuhnya. Kata-kata dibungkam dilema dan tak sinkron. Antara hati, perasaan, dan otak yang sudah tak sejalan.

Kekecewaan begitu dalam, merasuk dan menusuk ruang hati. Sebuah ruang yang sengaja kukosongkan sebelumnya. Namun kini telah terisi dengan sebuah nama.. -S A-

Sastra Anugrah.. pria yang baru saja ku kenal setahun kemarin.
Aku mengenalnya di sebuah komunitas relawan. Dia menjadi leader, sangat aktif, pintar, perhatian, dan satu hal yang paling aku suka.. rajin sekali ibadahnya. Ehhhmm..

Darinya aku belajar banyak hal. Sampai akhirnya hatiku jatuh, dan menyimpan namanya dalam sebuah harapan.

Menyukainya dalam diam, adalah caraku saat ini.. Dan entah sampai kapan.
Aku mencoba melawan, dan mengumpulkan energiku kembali.

'Hentikanlah..' jeritku tertahan pelan.

Aku berjalan menghampiri Ibu, yang sedang sibuk membuat cake pesanan. Semangatnya begitu menggebu. Keriput di wajahnya, tak bisa membohongi usia yang sudah semakin menua. Tangan yang begitu terampil membuat hiasan dari vondant.

"Looh kok malah diem disitu? Tuh udah ibu siapkan. Kamu tinggal antar ke alamat ini." Ibu menunjuk kertas yang tergeletak di lantai.

 "Siaaaappp Boss." Sahutku.. Seraya tersenyum lebaar sambil mengangkat tangan kanan sejajar halis. Tanda hormat pada Ibu. Aku harap senyumku cukup sempurna, dan bisa menyembunyikan lukaku.

Mengantar pesanan kue adalah tugasku setiap weekend. Jika hari biasa, aku bekerja di sebuah kantor swasta Perusahaan ritel sebagai staff bagian promosi.

Semenjak Ayah tiada, aku harus bekerja lebih keras agar dapur tetap mengepul. Ditambah lagi, aku mempunyai 3 orang adik ya g masih sekolah. Ketiganya tentu perlu biaya yang tak sedikit.

Aahhh jika mengingat beban kehidupan keluarga, rasanya aku tak semestinya menambah beban pikiranku dengan menghadirkan dia. Seseorang yang menghiasi seisi kepalaku saat ini.

Motor yang aku kendarai melaju lambat, bahkan sangat lambat untuk ukuran biasanya. Bayang wajahnya lah yang lebih cepat terpahat. Mengitari menghiasi memburai mimpi.

"Tiiiiiiinnnnnnn" suara klakson mobil di depan membuyarkan lamunanku. Hampiir saja aku kebablasan menerobos lampu merah.

Oh Tuhan.. sampai seperti inikah?aku hampir mempertaruhkan nyawaku untuk hal yang belum jelas ini. Oke..cukup Najwa.. Kembali lah seperti biasa. Dan lupakan dia perlahan, tinggalkan angan.. Logika ku mulai berteriak menyeruak.

Padatnya lalu lintas siang itu, semakin ramai dengan suara turunnya hujan. Katanya, salah satu doa yang dikabulkan adalah doa ketika hujan.
Dan aku.. masih mendoakanmu.. hari ini, dan entah sampai kapan.


-bersambung- 😆😆😆


------------ Ceuceumeo-------------

@nhaegerhana


Comments

  1. Ditunggu sambungannya yaa.. 😁

    Tatat

    ReplyDelete
    Replies
    1. woaaaa..aku masih ga PD teteeehh bikin cerpen..ditunggu masukannya.. nuhuuun dah mampiiir :*

      Delete
  2. harus pede atuh kalo gitu mah bikin cerpennya

    ReplyDelete

Post a Comment